SITS - Sial Ini Terlalu Sialan

Kein Mahardika
Chapter #29

Lebur

Penglihatan Raka gak lagi setajam alis dan mata yang pernah terbentuk secara gagah. Kesan sejuk yang semula menjadi ciri dari sebuah kehangatan cinta, kini berubah muram dan seperti tanpa tujuan.

Raka samar, bahkan nentuin satu dari ribuan jalan bercabang yang teronggok didepan kepala pun gak mampu Raka lakukan.

Bukan matanya yang salah. Hanya saja, Raka mulai ragu dengan semua jalan yang tampak. Kebingungan nyari petunjuk. Gak paham lagi nyari arah. Segala pertaruhannya diambang kehancuran. Ekspetasi nya keliru. Dan jarak yang cukup jauh dengan Tuhan menyempurnakan semuanya.

Sedetik, Raka ngerasa berwibawa dan penuh kharisma. Dengan segala yang dia punya selama ini, dia ngerasa menangin semuanya. Ngerasa punya kendali penuh atas diri dia sendiri.

Sampai akhirnya Raka sadar. Idiologi film Azab itu benar. Bentuk pemakluman-pemakluman pada diri sendiri nggak semuanya baik. Cenderung lebih banyak destruktifnya.

Raka menghancurkan diri dia sendiri ketika mutusin ngambil hak yang bukan hak dia dengan embel-embel pemakluman.

Sekarang sepi. Nomornya Ghisa juga kayaknya juga udah gak aktif. Antara emang ganti nomor atau Ghisa sengaja ngeblokir. Raka gak bisa apa-apa lagi.

Barangkali emang Raka yang kebanyakan nuntut sama Tuhan, ibadah masih ogah-ogahan tapi banyak mau. Udah dikasih nafas, masih aja makan jatah anak yatim. Goblok emang

Beberapa hal dalam hidup udah mulai Raka lepasin. Atau dia relakan dengan kepaksa. Sebentar lagi dia gak akan tinggal di apartemen mewah yang selama ini jadi tempat kebanggaannya. Mobil juga bakal diambil sama orang. Secepat itu Allah membalikkan keadaannya.

Dibilang kesel, ya ngeri juga. Itu kan Tuhan. Masa kesel sama Tuhan. Tapi tetep keki ada sedikit. Bukan sama Tuhan, melainkan sama alasan kenapa semuanya mesti Raka lepas.

Ini juga mungkin alasan yang bikin Tuhan akhirnya muter kondisinya. Dibikin susah gak berguna, dijadiin kaya juga kok sama gak bergunanya. Akhirnya jadiin miskin lagi aja deh.

Ya walaupun Tuhan gak pernah merugikan hambanya, barangkali ini semacam hukuman supaya Raka sadar bahwa udah banyak banget dosa serta kejahatan yang dilakukannya sama Ghisa.

Sedari pagi Raka cuma ngelamun. Dia gak ngeberesin apapun di apartemennya. Melihat semua barang disana, dia sadar itu bukan miliknya. Semua baju, koleksi tas, bahkan sepatu mahal masih terpajang di tempatnya semula. Gak ada yang berpindah tempat.

Lihat selengkapnya