‘Kapan lagi kutulis untukmu. Tulisan-tulisan indah ku yang dulu. Pernah warnai dunia. Puisi terindahku hanya untukmu. Mungkin kah kau kan kembali lagi. Menemaniku menulis lagi. Kita arungi bersama, puisi terindahku hanya untukmu’
Lagu jikustik mengalun lembut dari hedset Raka. Dia cuma duduk sambil sesekali melihat foto Ghisa dan semua kenangannya bersama perempuan tersebut.
Hampa, kosong, bingung, ga enak hati, berpikir tapi gatau mikirin apa. Raka yakin dia bisa lewatin semua keadaan ini. Tapi yang kali ini rasanya kok berat. Raka sendirian. Mau peluk, peluk siapa. Mau cerita, ga ada siapa siapa. Masa harus ngomong sama perabotan. Akhirnya cuma bisa nangis doang. Muka serem, tatoan segala, masih bisa nangis aja. Ya abisnya gimana? Sakit yang Raka rasain udah ngelewatin ambang wajar.
Dengan mata merah dan sembab, Raka cuma bisa berpindah dari satu rumah kosong ke rumah kosong yang lain. Jangankan orang, setan aja pasti ngeri kalau ketemu Raka. Dia gak punya siapa-siapa, gak bawa apa-apa. Beruntung beberapa ratus ribu masih tersimpan utuh di dalam Atm nya.
Di ujian kali ini Raka gak lagi banyak berharap. Kayak udah cape naruh harapan. Jadi everything happen, happen aja lah. Biar hidup lebih luwes dan yaudah kalau emang harusnya begitu. Emang sih masih ada harapan, wish, tapi ngga banyak. Kira-kira ada dua doang.
Pertama, mau bunuh diri lagi. Kedua, semoga dilancarkan bunuh dirinya. Itu aja cukup bagi Raka.
“Sha, kangen boleh gak? Pengen banget ketemu. Minta maaf langsung sama kamu. Paling gak setidaknya, aku gak akan ngerasa sakit seperti sekarang. Sekarang aku bingung mau kemana? Disetiap sudut yang aku datangi, selalu aja ada bekas kamu sama aku. Aku gak kuat lagi Sha.
Dunia ini kayaknya terlalu sulit untuk ngubur memori kelam dari hidup yang semenyedihkan ini untuk aku. Nyaliku hilang Sha. Sekarang banyak takutnya.