SITS - Sial Ini Terlalu Sialan

Kein Mahardika
Chapter #31

Kematian Dimas

Hembusan angin pagi mengelilingi rumah kosong yang semalam ditempati Raka. Menyeruak hingga kedalam sudut-sudut ruangan didalamnya. Sinar matahari masuk melalui celah atap yang udah lapuk dan langsung menuju kepala Raka.

Matanya terbuka. Dia membangunkan tubuhnya. Sedikit pegal karena mungkin semalaman berada dilantai yang dingin. Baterai Hp dan perutnya sama-sama kosong pagi itu. Tangan nya mengibas-ngibas pakaian yang terkena debu lalu berjalan gontai ke arah depan.

Pelan-pelan Raka mulai nerima. Belajar nerima. Masih ada keselnya sedikit. Tapi gak sebanyak tadi. Baru deh bisa mikir jernih. Harus sadar, di dunia ini numpang. Di dunia ini cuma boneka. Wayang. Jalan ceritanya udah ada yang atur. Ngga bisa dibikin semau dan sesuka dia. Jadi modal dia itu cuma serahin dan yakin aja.

“Sebaik apapun rencanaku, pasti lebih baik lagi rencana Tuhan walaupun kadang nyampeinnya dengan cara yang gak enak.” Hibur hati Raka.

Atau mungkin Tuhan lagi kangen aja. Katanya hamba Nya yang satu itu kalo gak di tegor suka gak pernah nyapa. Jarang menghamba. Sekarang sehancur apapun jalannya, Raka berharap bisa bertahan sampai nemu titik indahnya sebelah mana.

Raka menyalakan motor. Dia mau cari nasi uduk atau apapun untuk mengganjal perutnya. Baterai Hp nya juga perlu diisi daya. Sekarang gak kepikiran untuk duduk di cafe. Dia harus menghemat uangnya untuk sekedar bertahan hidup di kota yang buas ini. Pilihannya jatuh ke Alfamart atau Indomart. Biasanya ada bangku kan disediain dan colokan listrik juga.

Raka menghempas pagi dengan motor kesayangannya. Sesekali menguap melewati lampu lalu lintas yang berdiri tegak. Entah apa yang ada dalam isi kepalanya, Namun tatapan kosong itu mencerminkan kesedihan yang dengan sekuat tenaga lagi dia singkirin

“Berapa mba?”. Tanya Raka menyodorkan dua buah roti coklat dan sekaleng minuman bersoda.

“Totalnya dua puluh ribu mas”. Jawab kasir ramah.

“Mba saya numpang duduk di depan sambil charger Hp ya”. Ucap Raka sambil nyerahin uang pas. Si kasir hanya senyum sambil mempersilahkan Raka duduk disana.

Tangannya sibuk pada layar Hp ketika mulutnya mengunyah makanan. Raka gak bisa begini terus. Mau sampai kapan dia pindah dari satu rumah kosong ke rumah kosong yang lain? Jari-jemarinya menari diatas layar merhatiin setiap nomor whatsapp teman-temannya yang ada disana.

“Bro. Gue boleh minta tolong gak?”.

Raka mengirim pesan ke salah satu kontak tersebut. Pesan itu langsung dibaca. Tapi setelah itu Photo profil nya lenyap. Raka menghela nafas panjang. Tanpa berfikir negatif, dia lalu mencari nomor yang lain.

“Men”. Sapa Raka ke kontak yang lain.

“Weiiiits my meeeen. Tumben pagi On. Lagi mikir mau buang duit kemana ya? Or lagi mau travelling? Kemana kita?”. Temannya membalas cepat.

“Malam ini gue nginep dirumah lo ya”.

“Nginep? Mending gue aja yang nginep di apartemen lo. Ber PS ria kita yok. Kebetulan gue lagi gak ada kerjaan nih”. Jawab temannya antusias.

“Gini men, gue udah gak ada apartemen. Gue kehilangan segalanya men. Sekarang aja gue gak punya tempat tinggal. Mana uang tinggal sedikit. Boleh gak sementara gue ditempat lo?”. Tulis Raka panjang.

Beberapa saat pesan itu hanya dibaca saja.

“Waduh men gue baru inget, siang ini gue diajak bokap keluar kota. Kemungkinan sih sampai semingguan men”. Dan setelah itu dia gak aktif lagi.

Raka Cuma senyum. Dia udah gak sanggup marah-marah. Ternyata bener, di dunia ini, yang tau sakitnya, menderitanya, sufferingnya, ya cuma diri dia sendiri. Ngga ada satupun manusia di dunia ini, yang akan bener-bener peduli apa yang lagi dia rasain.

Raka gak menyerah, setelah menghapus dua nomor tadi, dia kembali mengirim pesan ke nomor yang lain lagi.

“Bro, lagi dimana?”. Tanya Raka sopan.

“Ngapain lo whatsapp gue? Gue udah tau semuanya. Gak mau gue sampai kena tipu kaya Ghisa. Mending lo jauh-jauh deh”. Dan Raka langsung di blokir.

Ingin rasanya Marah-marah, tapi Raka sadar, marah-marahpun masalahnya gak akan selesai. Gak marah-marah, ya sama juga. Bedanya marah marah, emosi dan sedih itu bakal nguras energi. Kalo sambil happy kan lebih enjoy. Seenggaknya gak capek hati. Bisik hati Raka. Meski kata anjing masih keluar dari mulutnya. Dan yang kali ini sedikit lebih lembut.

Kerongkongan Raka kering lagi. Hp nya sudah terisi penuh. Niatnya mau beli satu minuman lagi ke dalam sebelum nyari rumah kosong yang lain.

“Mba susu beruang ada dimana ya kok saya cari dari tadi gak ketemu”. Tanya Raka masih sama kasir yang sama.

“Ada mas di rak nomor dua paling atas sebelah kanan”. Mata Raka mengikuti arah telunjuk si kasir lalu berjalan menuju kesana.

“Mana sih mba? Eh iya ada deng hehe”. Raka nyengir kuda setelah menemukan apa yang dia cari.

Bletak. Susu beruang jatuh ke lantai beserta belanjaan orang lain.

“Eh buset maap gak sengaja”. Duh pakai segala nabrak orang.

Raka ngambilin belanjaan orang tersebut sambil mendongak menatap orang yang dia tabrak. Perempuan. Tapi udah tante-tante.

“Sorry ya mba tadi saya gak liat-liat jalannya”. Si tante cuma ngangguk sambil senyum. Lalu pergi meninggalkan Raka.

Lihat selengkapnya