Sirine mobil ambulan berbunyi nyaring, dikawal oleh mobil polisi, mengantarkan Dimas ke rumah duka. Keluarga sudah mulai berdatangan begitu mendengar kabar berpulangnya Dimas. Masjid lalu mengumumkan berita itu kepada seantero tempat tersebut.
Di tengah keramaian keluarga yang berdatangan, Raka hanya bersembunyi dan melihat dari jauh ketika Ghisa dan Bojas datang untuk melayat. Disitu juga terlihat Bimo dan si bapak yang tengah melamun ditengah isak tangis keluarga Dimas.
“Ghisa. Kamu makin cantik ya”. Raka hanya bisa tersenyum melihat Ghisa dari kejauhan.
“Gue gak yakin dia kecelakaan”. Ucap Bimo ditengah kesibukan keluarga memandikan Jenazah Dimas.
“Maksudnya?”. Tanya Bojas penasaran. Ghisa hanya coba mendengarkan apa yang akan Bimo ucapkan selanjutnya.
“Dimas itu mahir banget bawa mobil. Masa dia bisa kecelakaan. Pasti ada sebab yang bikin Dimas gak konsen sampai bisa kecelakaan kaya gitu”. Sambung Bimo lagi.
“Maksud lo dia dibunuh? Atau sengaja dibikin kecelakaan?”. Lanjut Bojas.
“Iya bisa jadi kan? Dan kayaknya penyebab semua ini tuh Raka”. Bimo menghela nafas berat menahan emosinya.
“Kalian jangan ngomong sembarangan”. Ghisa akhirnya bersuara sama mereka.
“Bisa jadi kan? Raka itu gak bisa ditebak. Kemarin aja dia bisa tega nipu lo Sha. Apalagi sama Dimas”.
Ghisa terdiam mendengar jawaban Bimo yang ini.
Prosesi pemakaman akhirnya mulai dilangsungkan. Suara adzan terdengar melantun dari sang ayah. Sedang ibunya hanya mampu merintih sambil memeluk figura foto Dimas yang sedang tersenyum manis.
Tanah demi tanah perlahan menimbun jasad Dimas. Ghisa dan semuanya yang ada disana hanya bisa terdiam menyaksikan prosesi itu. Ibunya mulai kehilangan kesadaran. Beruntung orang-orang didekatnya mencoba menahan tubuh wanita paruh baya itu agar gak jatuh.
Kepanikan mulai melanda. Beberapa sanak saudara membawa ibunya kembali kerumah. Mereka paham bagaimana hancurnya perasaan wanita tua itu kehilangan putra satu-satunya yang dia sayangi.
Pemakaman itu berlangsung cepat. Semua yang hadir satu-persatu menjabat tangan keluarga yang ditinggalkan. Mungkin memberikan ucapan berbela sungkawa, atau sekedar kata-kata penghiburan kepada sang ibunda. Dengan tenang yang dibalur kesedihan mendalam, sang ibu menerima ucapan tersebut.
Taburan bunga kini memenuhi pusara Dimas. Cowok ini kembali ke pangkuan Tuhan. Menyisakan pertanyaan besar bagi Bimo dan si bapak.
“Gue pamit ya”. Ucap Ghisa sama Bimo
“Gue juga. Mau nganter Ghisa dulu”. Timpal bojas. Mereka pun pergi dari pemakaman tersebut.
Sekarang hanya menyisakan dua orang. Bimo berjongkok lirih menggenggam tanah pusara itu. Satu tangannya mengusap lembut nisan Dimas.
“Lihat kan pak? Sekarang bapak percaya kata-kata saya?”. Ucap Bimo sama si bapak yang gak bisa menjawab apapun.