SITS - Sial Ini Terlalu Sialan

Kein Mahardika
Chapter #33

Gantung Diri

Akhir-akhir ini jiwa si bapak terguncang. Rasa takut, curiga, waspada, khawatir dan panik tiba-tiba melebihi batas yang sanggup dia pikul. Setiap ngeliat berita pembunuhan, dia jadi khawatir kejadian serupa menimpanya atau salah satu anggota keluarganya.

Setiap ada orang lain yang menatapnya, dia curiga kalau orang itu memandangnya sebagai sampah atau tinja hidup yang pantas dibunuh. Setiap dia tersesat di suatu daerah, dia panik sehingga keringat dingin memenuhi dahi, telapak tangan dan selangkangannya.

Si bapak yang emang memiliki dasar ilmu psikologi dan menjadi seorang dosen di salah satu universitas mahal itu tahu persis perihal gangguan mental yang menyerangnya.

Tapi dia lebih milih mengakhiri hidup agar segera bebas dari penderitaan yang dia rasakan daripada mengikuti terapi berbiaya mahal.

Dia mulai mikirin cara yang tepat agar modus bunuh dirinya dapat tersamarkan. Tentu aja dia gak mau bikin istri dan anak serta keluarga besarnya malu.

Kalau minum racun tikus, maka tetangga akan jadiin topik tersebut sebagai bahan gunjingan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

“Apa kata orang nanti pendidikan saya tinggi tapi malah minum racun tikus seperti orang bodoh”. Gumam si bapak dalam hati.

Si bapak gak mau membawa kesengsaraan tambahan kepada keluarganya.

Menyelamatkan reputasi mereka di masyarakat adalah hal terakhir yang dia harus lakukan sebagai wujud terimakasih sebelum menghilang dari dunia.

Setelah beberapa lama merenung, ada beberapa ide bunuh diri yang terlintas di benaknya.

Pertama, ide menabrakkan diri ke truk pengangkut batu kali. Kok kesannya hina ya. Nanti bukan disangka bunuh diri, malah dikira warga jadi tumbal penunggu kali nya.

Kedua, ide mendaki gunung gede tanpa peralatan memadai .  Nah bakalan kena hipotermia di puncak. Mati. Ditemukan tim sar lalu diberitakan seorang dosen tewas setelah berusaha menaklukkan gunung gede. Sedikit keren, tapi bakal diketawain gak ya sama para pecinta alam. Mendaki gunung gede aja mati. Lemah.

Ketiga, apa jadi petugas Tempat Pemungutan Suara agar kelelahan sampai pembuluh darah pecah? Tapi? Gimana kalau gak pecah? Cuma urat ketarik doang karena seharian berdiri gak dikasih makan?

Rasanya nyesel banget pernah jahat sama orang lain. Sekarang si bapak lagi sendirian, sakit kepala parah, laper. Mau keluar takut dibunuh. Mau diem aja mati kelaparan.

Padahal lagi mikirin mau mati juga, tapi kalau dibunuh sih rasanya bukan pilihan yang bagus.

Rasanya kayak lagi susah payah menghindari bencana, ketakutan, kelabakan. Tapi belum tau bencananya apa. Gak keliatan, gak ada pengumuman, tapi kerasa.

Semuanya keliatan baik-baik aja. Tapi ada yang salah. Gak tau apa. Gak tau salah siapa. Gak tau harus gimana. Menyelamatkan diri, Si bapak bakal mati. Gak menyelamatkan diri pun juga akan tetep mati.

Ada satu manusia yang jadi bencana itu. Hidup asalnya lagi baik-baik aja. Semua terencana dengan sempurna. Yang jadi catatan, seberantakan apapun kehidupan kemarin, jauh lebih baik dari sekarang.

Padahal berantakan yang sekarang itu sudah susah payah dirapihin bareng-bareng. Di tata sama-sama. Tapi segimanapun dirapihin, semenjak Raka menuntut balas, ada berantakan yang gak kentara. Gak tau apa. Tapi kerasa banget buat si bapak.

Si bapak capek ngais-ngais harapan hidup. Capek hidup tapi terpaksa. Mau mati juga bingung pakai cara apa. Rasanya dia ingin minum sampai mabuk, ditemukan hilang sadar besok harinya, atau bahkan menembak kepala sendiri dengan senjata api.

“Pak. Selamat siang. Bapak? Buka pintunya. Paaaak?”. Kata warga sambil menggedor pintu rumahnya.

“Apa kita dobrak saja pintu rumahnya pak RT?”

Belum sempat pak RT memberi perintah, pintu rumah terbuka dengan perlahan. Dari dalam nampak wajah yang begitu asing. Rambut yang acak-acakan dengan kumis dan janggut yang begitu kusut.

Pak RT dan warga hampir gak mengenali si bapak yang biasanya berpenampilan rapi dan klimis.

Memang si bapak kini jarang sekali keluar rumah. Dua perempuan dalam hidupnya telah lama pergi. Katanya ke kampung halaman. Tapi sudah berbulan-bulan gak juga kembali.

Si bapak juga sudah gak berangkat mengajar. Sempat satu hari yang lalu ada salah satu mahasiswanya datang untuk menjenguk. Tapi dia pergi karena gak ada jawaban dari rumah.

Semua tetangganya juga merasa khawatir karena dimalam hari sekalipun rumah si bapak gak menyalakan penerangan apapun.

“Bapak baik-baik saja?”. Tanya pak RT.

Si bapak hanya mengangguk. Semua warga mulai menawarkan ajakan untuk makan dirumahnya namun si bapak menggeleng. Dia gak mengeluarkan sepatah katapun.

“Kalau ada yang bisa kami bantu jangan segan bilang ya pak”. Kata tetangganya khawatir. Si bapak Cuma mengangguk lagi.

Setelah hening beberapa saat karena gak ada pertanyaan lagi dari warga, keadaan menjadi canggung. Apalagi si bapak gak mempersilahkan warga untuk duduk atau masuk ke dalam rumahnya.

“Boleh saya istirahat lagi?” Si bapak akhirnya bersuara.

Pak RT mengangguk. Kemudian pintu yang sedari tadi hanya dibuka setengah itu kembali tertutup.

Si bapak gak berani berucap jujur, mulutnya membisu menutup luka. Dia berbohong, mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Tapi setiap hari, badan si bapak penuh lebam, hatinya pilu, pikirannya kacau, tangan dan kakinya gemetar, badan nya gak kuat menahan rasa ketakutan ini.

Si bapak gak sanggup meminta pertolongan, padahal dia yakin seyakin-yakinnya, mereka pasti akan menolong. Si bapak gak ingin merepotkan orang lain karena dia sendiri yang masuk dalam segala kerumitan ini.

Lihat selengkapnya