Raka takut masuk dalam sebuah masalah baru yang gak dia kenali dengan baik, sebaik Raka mengenal Ghisa. Dan benar aja, kini Raka yang menjalani ketakutan itu sendiri. Semua yang dia bangun dengan rencana yang begitu matang, ternyata harus menjadi serpihan kaca yang berserakan lagi.
Gak ada rasa tentram dan ketenangan hati, dua hal yang dulu pernah Raka dan Ghisa bicarakan. Sampai kesadaran dan keberanian Raka perlahan mati.
Dia takut pada ketidakpastian, takut pada rasa takutknya sendiri. Takut akan menghadapi dunia ini sendirian, karena selama ini Raka emang sendirian. Dia kehilangan segala sesuatu yang berharga, Keluarga. Dia juga kehilangan dirinya sendiri. Dan yang terparah, dia kehilangan Ghisa.
Setiap langkah yang dia buat, selalu jadi kesalahan baru. Gak ada yang benar, satu-satunya yang benar adalah keinginannya untuk mati. Entah kapan Tuhan mengabulkan permintaan yang satu itu.
Raka lelah. Capek rasanya jadi dirinya sendiri, saat orang lain mungkin capek ingin jadi seperti orang lain.
Kapan ini berakhir? Raka sampai gak bisa lihat dimana ujungnya semua ini. Rasanya gelap, bahkan saat matahari lagi terik-teriknya.
Raka ngeluarin motornya lalu berjalan keluar dari kantor polisi.
Hatrik. Tiga kali masuk kantor polisi. Kalau ibunya tau, mungkin ibunya akan langsung menghadap Sang Pencipta karena langsung terkena serangan jantung.
Bimo juga sudah pergi dari sana. Mungkin kaget sama semua yang dia dengar. Takut jadi tersangka karena lagi-lagi dia nuduh tanpa bukti, akhirnya Bimo langsung pergi gitu aja.
Nasi udah jadi bubur. Sayangnya Raka lebih suka nasi. Sedari kecil memang dia gak suka sama bubur. Maka mau gak mau ya harus makan nasi.
Kata maaf sudah dia lupakan. Persetan dengan berdamai sama takdir. Sudah kepalang tanggung, muncul lagi rasa ingin balas dendam sama Bimo. Sepeda motor yang tadinya menjauh, akhirnya putar balik dan langsung menuju rumah Bimo.
Mimpi Raka terdiri atas ketakutannya pada apa-apa yang mungkin terjadi dan harapan pada kemungkinan-kemungkinan baik. Itu salahnya. Orang baik biasanya cepat mati. Ini mungkin yang bikin Raka gak mati-mati. Dia orang jahat. Makanya umurnya panjang.
Dia ingin jadi orang baik saja sekarang. Ngebantu tugas malaikat Izroil buat nyabut nyawa si Bimo bukan kah itu suatu kebaikan?
“MULAI SEKARANG PERSETAN DENGAN SEMUANYA. NAMA BAIK, KEHORMATAN, APAPUN ITU. GUE UDAH MUAK SAMA SEMUANYA!”.
Raka melajukan motornya dengan sangat cepat. Seperti seorang tentara yang ingin cepat-cepat menuntaskan peperangan.
Dia akhirnya sampai. Udah lama gak kesini. Pintu rumah Bimo terbuka. Terlihat Bimo lagi sibuk mengemas semua barang-barang dan pakaiannya.
Kesempatan ini akhirnya datang juga. Diam-diam, setelah memperhatikan lingkungan sekitar, Raka masuk kedalam rumah Bimo. Setelah didalam, masih tanpa sepengetahuan Bimo, Raka mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Berharap menemukan senjata tajam yang bisa digunakannya untuk membunuh Bimo.
Tidak lama, pandangannya teralih pada ponsel milik Bimo yang teegeletak diatas meja.
CEKLEK.
Raka mengunci pintu dari dalam. Bimo yang mendengar suara itu menoleh.
“Mau kemana lo?”. Ucap Raka dengan senyum seramnya.
“BANGSAT! MAU NGAPAIN LO?!”. Teriak Bimo ketika melihat Raka berdiri dengan angkuhnya.
“Mau nuntut balas”. Jawabnya tegas masih dengan senyum menyeramkan. Kali ini dia silangkan lagi kedua tangan didepan dadanya.
“LO JANGAN MACAM-MACAM ANJING!”.
Bimo menggertak yang sepertinya adalah tindakan percuma. Karena Raka emang sudah bulat mengambil keputusannya tersebut.
“Nyari ini?”. Raka melihatkan Hp Bimo yang sebelumnya sudah dia ambil.
Melihat situasi berbahaya, Bimo lari ke arah dapur yang langsung dikejar sama Raka.
“JANGAN DEKAT-DEKAT LO ANJING!”. Bimo mengambil sebuah pisau dan mengarahkannya kepada Raka.
Raka langsung tersenyum.
“Pisau? Gak ada yang lebih mematikan? Karena selama ini gue udah ditusuk sama sesuatu yang lebih tajam dari sekedar pisau”.
Tanpa aba-aba, Raka akhirnya langsung menyerang Bimo. Keributan pecah. Dengan tangan kosong Raka menyerang Bimo secara membabi buta.