SITS - Sial Ini Terlalu Sialan

Kein Mahardika
Chapter #35

Sebuah Kebenaran

Ghisa tertegun membaca setiap kata penuh makna yang coba Raka tuangkan dalam surat. Seorang jamaah masjid mendatangi rumah Ghisa dan ngasih surat ke dia yang emang didalam surat tersebut tertulis alamat Ghisa.

Hatinya terenyuh. Air matanya lagi-lagi mengalir dari dua buah bola matanya. Dan seketika banyak kenangan yang seakan menyerbu alam bawah sadarnya. Ghisa merindukan Raka. Pada sosoknya, pada tertawanya, pada perjuangannya sama Ghisa dulu dan setiap hal yang ada pada diri Raka.

“Sha”. Bojas memanggilnya dengan lembut. Ghisa menarik nafas dalam lalu mencoba tersenyum

“Aku gak apa-apa”. Jawab Ghisa sambil menyeka air matanya. Bojas menatap mata Ghisa. Dan Ghisa juga membalas tatapannya tersebut.

“Kita kunjungi makam Raka aja yuk”. Ucap Bojas lembut. Ghisa kembali tersenyum.

“Iya boleh. Raka pasti seneng dengan kedatangan kita”. Jawab Ghisa masih dengan isak tangisnya.

Raga dan pikiran Ghisa saat itu hanya tertuju pada satu nama.

RIZKI MAHARAKA SYAHPUTRA.

Rasa gak percaya kalau Raka udah gak ada masih tertanam di dadanya. Udah lama banget gak ketemu Raka. Sekalinya ketemu malah harus secepat ini.

Ini sulit sebenarnya bagi Ghisa. Bagaimanapun Ghisa pernah bahagia ditempat itu. Bersama Raka. Segala alur cerita hidup, cinta, persahabatan, serta aroma kisah tak kasat mata, begitu manjur mengalihkan rasa sakit dikhianati orang yang pernah dia kagumi keberadaannya.

Mereka pernah kehujanan sepanjang perjalanan yang mereka jalani. Menggigil, kedinginan, untuk tetap bersama disebuah malam yang begitu pekat.

Mereka pernah harus menghadapi terik matahari yang tidak perduli bahwa mereka sedang menghindarinya. Mereka pernah harus melawan arus sungai yang deras, pernah harus menyelami lautan. Hanya demi sebuah kebersamaan yang mereka banggakan.

Mereka pernah melihat matahari terbit bersama. Pernah memandang bulan purnama, mereka berdua diam, lalu terpesona.

Mereka pernah melakukan perjalanan yang membuat mereka saling mengenal. Meski diperjalanan mereka pernah saling memaki, sedikit benci, bahkan ingin pergi. Tapi, mereka tahu disini mereka tidak sendiri. Mereka sadar diri. Dan mereka memilih untuk tetap melakukannya bersama-sama..

Mereka punya sebuah mimpi. Ke tempat-tempat yang akan membuat mereka semakin bijaksana. Ke tempat-tempat berbahaya yang akan semakin mendekatkan mereka. Yang akan semakin membuat Ghisa dan Raka sama-sama yakin bahwa mereka pantas saling melengkapi satu sama lain.

“RAKAAAAAAA”. Ghisa menangis lagi.

Lihat selengkapnya