Langit di atas cakrawala Karawang siang itu nampak seperti kuali raksasa yang sedang mendidih, memuntahkan hawa panas yang seolah sanggup melelehkan garis horison.
Matahari, yang nampak putih keperakan karena saking panasnya, tepat berada di puncak kepala, sebuah titik tegak lurus yang kejam, seolah-olah sengaja turun beberapa jengkal lebih rendah hanya untuk memastikan setiap butir tanah merah di halaman rumah itu terpanggang hingga retak-retak. Udara tidak lagi bergerak: ia terasa berat, pengap, dan membawa aroma debu jalanan yang menyengat, bercampur dengan bau kecut dari selokan yang sudah berbulan-bulan tidak disapa hujan.
Di bawah tekanan suhu yang gila ini, dunia seolah-olah sedang menahan napas dalam penderitaan yang bisu.
Di teras sebuah rumah tua yang cat putihnya sudah mengelupas menyerupai sisik ular yang meranggas, seorang gadis kecil bernama Sheila duduk bersimpuh. Lantai semen kasar yang ia duduki terasa panas menyengat kulit betisnya yang kecil, namun ia seolah tidak peduli pada rasa perih fisik itu. Baginya, ada rasa perih lain yang jauh lebih purba di dalam dadanya. Usianya baru lima tahun, namun matanya yang bulat dan hitam legam menyimpan sebuah jenis kesunyian yang sangat dalam, jenis kesunyian yang tidak seharusnya dimiliki oleh seorang bocah.
Itu adalah tatapan yang sanggup membuat orang dewasa merasa kikuk, merasa berdosa, dan akhirnya berpaling karena tak sanggup menanggung beban melankolia yang terpancar dari sana. Kesunyian Sheila bukan sekadar absennya suara, melainkan sebuah ruang hampa yang luas di mana emosi-emosinya terperangkap tanpa pintu keluar.
Jemari mungil Sheila yang kusam oleh sisa-sisa tanah merah sedang bekerja dengan ketelatenan yang luar biasa. Di pangkuannya, terdapat sebuah kincir angin bambu yang sudah patah menjadi dua. Itu adalah mainan paling berharga miliknya, sebuah benda sederhana hasil rakitan tangan Ayahnya yang kasar, namun penuh cinta. Biasanya, kincir itu akan berputar dengan riang setiap kali angin pesisir berhembus, memberikan sedikit warna dan suara pada dunia Sheila yang beku. Bagi Sheila, kincir itu adalah personifikasi dari jiwanya sendiri. Saat baling-balingnya berputar tertiup angin, kincir itu seolah-olah sedang berbicara padanya, sebuah percakapan rahasia antara benda mati dan seorang anak yang merasa suaranya sendiri telah dirampas oleh takdir sejak ia lahir.
Namun, siang ini, kincir itu tidak lagi bicara. Ia mati, hancur, dan diam. Sama matinya dengan keberanian Sheila untuk mendongak menatap dunia yang ada di depannya. Patahan bambu itu nampak seperti tulang yang mencuat, sebuah luka visual yang mempertegas ketidakberdayaan Sheila dalam menjaga satu-satunya "suara" yang ia miliki di dunia ini.
“Gagu! Sheila gagu! Nggak bisa manggil Ibunya! Mulutnya cuma buat makan doang!”
Suara itu melengking, tajam, dan penuh dengan racun kepolosan anak-anak yang belum mengenal empati. Tiga anak tetangga, yang usianya sedikit lebih besar dari Sheila, berdiri melingkar dengan wajah-wajah yang penuh ejekan. Di mata mereka, Sheila bukan teman bermain, melainkan sebuah anomali biologis yang menarik untuk diolok-olok. Bagi mereka, ketidakmampuan Sheila untuk mengeluarkan kata-kata adalah sebuah keganjilan yang lucu, sebuah pertunjukan sirkus gratis yang bisa mereka nikmati kapan saja untuk menegaskan superioritas mereka yang bisa bicara. Mereka tidak tahu bahwa setiap kata "gagu" yang terlontar nampak seperti sembilu yang menyayat membran harga diri Sheila yang masih sangat tipis.
Salah satu dari mereka, seorang anak laki-laki berpipi tembam dengan bekas ingus yang mengering di bawah hidungnya, sengaja melangkah maju dengan langkah yang dihentak-hentakkan. Dengan gerakan yang penuh kemenangan yang keji, ia menginjak sisa baling-baling kincir angin yang sedang dipegang Sheila.