Matahari sore merayap pelan di antara celah-celah daun mangga yang rimbun, menciptakan pola cahaya yang bergoyang tidak beraturan di atas tanah kebun yang dipenuhi hamparan daun bambu kering.
Udara Karawang yang biasanya panas menyengat, siang ini sedikit melunak, seolah-olah semesta memberikan jeda bagi jiwa-jiwa yang lelah. Angin pesisir utara berhembus membawa aroma tanah basah dan wangi kayu tua yang khas.
Ibu Wulan menuntun tangan Sheila dengan sangat hati-hati, sebuah genggaman yang lebih dari sekadar tuntunan, ia seolah sedang membawa porselen yang paling berharga, paling rapuh, sekaligus paling bermakna di dunia ini.
Langkah kaki Sheila yang mungil menginjak daun-daun bambu kering, menciptakan bunyi kresek-kresek yang konstan dan ritmis. Bagi anak lain, itu mungkin hanya suara sampah organik di bawah kaki, namun bagi Sheila, setiap bunyi adalah sebuah misteri besar yang menuntut jawaban. Di dalam benaknya yang sunyi, ia selalu bertanya-tanya:
Kenapa benda mati seperti daun kering bisa memiliki suara saat disapa oleh langkah kaki, sementara dirinya yang bernapas, yang memiliki jantung yang berdetak, justru terjebak dalam penjara keheningan yang tak berujung?
Mereka berhenti tepat di jantung kebun bambu peninggalan almarhum kakeknya. Di sini, ribuan batang bambu berdiri tegak menjulang, nampak seperti pilar-pilar hijau perkasa yang menopang kubah langit. Saat angin bertiup kencang, pohon-pohon itu akan saling bergesekan, bergoyang dalam irama yang serempak, seolah-olah sedang menari dalam sebuah simfoni alam yang megah dan purba.
Sreeek... sreeek...
"Shei, coba tutup matamu," bisik Ibu Wulan lembut sambil memegang kedua pundak kecil anaknya.
Sheila menurut tanpa ragu. Ia memejamkan matanya yang bulat legam. Dalam kegelapan itu, sebuah keajaiban terjadi. Indra pendengarannya yang selama ini terabaikan oleh hiruk-pikuk visual mendadak menjadi sangat tajam, seolah-olah ia baru saja menyalakan sebuah pengeras suara di dalam jiwanya. Ia bisa mendengar kepakan sayap burung gereja yang mendarat di dahan paling atas, suara jangkrik yang mulai menyetem biola alaminya di balik semak, dan suara gesekan daun bambu yang terdengar seperti bisikan rahasia dari ribuan leluhur yang sedang bercakap-cakap.
Lalu, sebuah suara yang sangat berbeda muncul dari tengah keriuhan itu.
Fiuuu... wiiit... fuuu...
Itu bukan suara gesekan daun yang kasar. Itu juga bukan kicauan burung yang repetitif. Itu adalah sebuah siulan yang sangat jernih, meliuk-liuk seperti aliran air pegunungan yang jernih di atas batu kali. Nadanya sangat tinggi namun memiliki kelembutan yang menyayat, seolah-olah angin itu sendiri sedang mencoba menyanyikan duka dan harapan secara bersamaan.
Sheila membuka matanya dengan binar takjub. Ia mendongak ke atas, mencari-cari apakah ada burung raksasa dengan bulu warna-warni yang sedang bersembunyi di pucuk pohon bambu. Namun, penglihatannya hanya menangkap batang-batang bambu yang berlubang, sebagian karena dimakan serangga, sebagian lagi karena sengaja dilubangi oleh ayahnya dulu untuk dijadikan seruling alam. Angin yang masuk ke lubang-lubang itulah yang menciptakan melodi itu.
"Dengar itu, Sayang?" Ibu Wulan berlutut di tanah merah, mensejajarkan wajahnya dengan Sheila agar mereka berada dalam satu frekuensi yang sama. "Bambu-bambu itu tidak punya mulut seperti kita untuk bicara. Mereka kaku, mereka diam, dan mereka nampak tidak berdaya saat badai datang. Tapi lihat, mereka bisa bernyanyi karena ada angin yang masuk ke lubangnya. Mereka menggunakan keterbatasan mereka, lubang-lubang yang nampak seperti luka itu, untuk menciptakan keindahan."