Siulan Malaikat

ANTON SYAHRONI
Chapter #3

Langit Runtuh di Tanah Merah

​Langit di atas cakrawala Karawang siang itu tidak lagi mendidih oleh panas yang membakar, melainkan menangis dengan amarah yang luar biasa. Awan hitam berarak rendah, seolah-olah berat karena menanggung beban duka yang tak tertahankan. Hujan turun dalam tirai-tirai air yang tebal dan masif, menghantam bumi dengan bunyi berderu yang buas, menelan seluruh frekuensi kehidupan lain di bawahnya.

Di tengah hamparan nisan-nisan yang bisu dan kaku, sebuah payung hitam besar berdiri tegak, mencoba menjadi benteng terakhir yang sia-sia melawan amukan cuaca yang tidak mengenal ampun.

​Di bawah payung itu, terdapat gundukan tanah merah yang masih basah, lembek, dan mengeluarkan aroma anyir tanah yang kuat, sebuah tempat peristirahatan terakhir yang dingin bagi sosok yang selama ini menjadi tiang penyangga tunggal di rumah tua mereka.

​Ada nisan kayu sederhana, dipotong kasar dan dipancang di kepala gundukan. Tulisan namanya masih nampak segar, guratan cat hitamnya seolah-olah belum benar-benar kering sebelum maut datang mengetuk pintu tanpa permisi. Sheila berdiri mematung di sisi pusara itu. Ia kini berusia tiga belas tahun, tubuhnya telah tumbuh lebih tinggi dan ramping, wajahnya mulai kehilangan kebulatan lembut masa kanak-kanak, digantikan oleh garis rahang yang tegas. Namun, matanya masih menyimpan kesunyian yang sama. Bahkan kini, kesunyian itu terasa berkali-kali lipat lebih pekat, menyerupai sumur tua yang ditinggalkan penghuninya.

​Bajunya basah kuyup di bagian lengan dan pundak. Kain kusam itu melekat erat pada kulitnya, menyerap air hujan yang dingin hingga meresap ke dalam pori-pori, menciptakan sensasi menggigil yang menjalar pelan menyusuri tulang belakang hingga ke sumsum tulang. Namun, Sheila tidak menangis sehebat anak-anak lain yang kehilangan orang tua. Ia tidak meraung histeris, tidak menjatuhkan diri ke atas tanah merah yang becek, tidak juga memaki langit yang kejam.

​Dunianya terasa melambat secara drastis, seolah-olah waktu sedang membeku di titik nol dan ia dipaksa untuk menonton sebuah film bisu yang sangat panjang tentang kepedihan tanpa akhir. Kesedihan Sheila adalah sebuah sumur yang tidak memiliki dasar. Ia tidak membutuhkan air mata untuk menunjukkan kehancurannya, diamnya adalah sebuah jeritan yang paling keras, sebuah protes bisu kepada semesta yang telah merampas dunianya.

Ibu ​Wulan merangkul pundak Sheila dengan tangan yang terasa jauh lebih kurus, lebih kasar, dan lebih ringkih dibandingkan beberapa tahun silam. Penyakit yang mulai menggerogoti tubuh Ibu Wulan nampak jelas dari tulang-tulang bahunya yang menonjol di balik daster tipis, serta napasnya yang kini sering terdengar pendek, payah, dan tersengal-sengal. Ia berdiri di sana, menahan beban tubuhnya sendiri sekaligus beban batin anaknya, menjadi satu-satunya akar yang tersisa bagi Sheila agar tidak tersapu oleh badai kenyataan yang mengerikan.

​"Ayah sudah di langit, Shei," bisik Ibu Wulan dengan suara serak yang bergetar. Suaranya nampak sangat kecil, bersaing dengan deru hujan yang menghantam permukaan payung mereka. "Sekarang tinggal kita berdua. Hanya kita berdua di dunia ini."

​Kalimat itu menghantam Sheila lebih keras daripada butiran air hujan manapun yang jatuh hari itu. Tinggal kita berdua. Kata-kata itu berdentum di dalam telinganya seperti lonceng kematian bagi masa kecilnya yang prematur. Ayah adalah sosok yang selalu mengangkatnya ke udara saat ia berhasil mengeluarkan nada siulan pertamanya, sosok yang dengan sabar membersihkan sangkar burung kacer sambil tersenyum bangga, kini telah menjadi bagian dari tanah yang ia pijak. Pelindung yang gagah itu telah tiada, meninggalkan rumah mereka yang kini niscaya akan terasa lebih luas, lebih sunyi, dan lebih gelap.

Lihat selengkapnya