Siulan Malaikat

ANTON SYAHRONI
Chapter #4

Perang Dalam Semangkuk Bubur

Dapur itu tidak lagi memiliki aroma kehidupan yang hangat. Jika sepuluh tahun yang lalu, ruangan sempit dengan dinding kayu itu selalu dipenuhi uap masakan yang gurih, wangi tumisan bawang merah yang menusuk hidung, aroma teh tubruk yang kental dan manis, serta kepulan uap nasi yang baru matang dari dandang, kini yang tersisa hanyalah sisa-sisa kehampaan yang merayap dingin.

Bau apak dari dinding yang menghitam karena jelaga tungku kini bercampur dengan sesuatu yang asing, tajam, dan tidak menyenangkan: aroma kimiawi dari obat-obatan generik yang menyengat, berpadu dengan bau minyak kayu putih yang seolah telah menyerap hingga ke dalam serat-serat kayu rumah tua itu.

​Sheila, yang kini telah menginjak usia tujuh belas tahun, berdiri tegak di depan tungku kayu. Cahaya api yang kemerahan memantul di wajahnya yang bersih, kulitnya nampak bercahaya tertimpa lidah api, namun matanya tetaplah mata seorang anak kecil yang polos, mata yang seolah menolak dengan keras untuk mengakui betapa rapuhnya dunia yang sedang runtuh di sekelilingnya. Jemari mungilnya yang sekarang nampak lebih dewasa, dengan kuku-kuku yang bersih namun pendek, dengan sabar mengaduk panci berisi bubur encer.

​Gerakannya sangat lambat, penuh dengan ketelitian yang hampir terasa sakral. Di dalam benak Sheila yang sederhana, sebuah keyakinan magis tertanam kuat: seolah-olah jika ia melakukan satu kesalahan kecil saja dalam ritme adukannya, jika bubur itu sedikit saja gosong atau menggumpal, maka kesembuhan Ibunya akan ikut menghilang dan terbang bersama asap tungku.

​Sambil mengaduk, bibirnya mengerucut secara alami, sebuah refleks yang sudah menjadi bagian dari cara jiwanya bernapas. Sebuah siulan pelan keluar, memantul di antara perkakas dapur yang sudah kusam, berjelaga, dan nampak lelah dimakan usia.

​“Wit... Wit...”

​Nada itu tidak lagi memiliki keceriaan seperti siulan "Lapar" atau "Sayang" yang dulu ia pelajari bersama Ibunya di kebun bambu saat dunia masih terasa utuh. Nada itu kini terdengar melankolis, berat, dan sedikit gemetar di bagian ujungnya, seperti dawai gitar yang sudah terlalu kendur namun dipaksa berdenting. Sebagai remaja dengan keterbatasan intelektual, Sheila mungkin tidak memiliki perbendaharaan kata untuk mendefinisikan apa itu metastasis, kecemasan medis, atau prognosis buruk, namun ia merasakannya lewat setiap pori-porinya. Ia merasa seolah-olah jika ia terus bersiul tanpa henti, ia bisa menciptakan perisai suara yang sanggup mengusir kabut kelabu yang pelan-pelan mulai menutupi cahaya di rumah mereka.

​Suara langkah kaki yang terseret-seret di atas lantai kayu yang mulai lapuk memecah kesunyian dapur. Bunyi itu terdengar seperti gesekan amplas di atas permukaan kayu yang kasar, sebuah penanda auditif yang menyakitkan bahwa sang pemilik langkah sudah tidak lagi memiliki energi untuk sekadar mengangkat kakinya sendiri dari gravitasi bumi. Ibu Wulan masuk ke dapur.

​Kerudung instan berwarna biru pudar menutupi hingga ke dadanya, namun kain itu nampak sangat longgar, seolah tubuh di bawahnya telah menyusut drastis, menyisakan kerangka yang dibalut kulit tipis dalam waktu yang begitu singkat. Wajahnya pucat pasi, nampak seperti kertas kuno yang pernah diremas hingga hancur lalu coba diratakan kembali dengan tangan gemetar. Lingkaran hitam di bawah matanya begitu dalam dan gelap, menyerupai bekas luka batin yang tak akan pernah sembuh oleh waktu.

Lihat selengkapnya