Siulan Malaikat

ANTON SYAHRONI
Chapter #5

Mahkota yang Gugur

​Sore itu, langit Karawang nampak muram, tertutup oleh awan mendung kelabu yang menggantung rendah seolah sedang memikul beban air yang sangat berat dan hampir tumpah. Cahaya matahari yang biasanya garang kini teredam, menyisakan nuansa temaram yang melankolis di seluruh penjuru kota. Di dalam rumah tua yang mulai kehilangan warnanya, Sheila sedang menyapu lantai kayu di ruang tengah dengan ketekunan yang sunyi.

​Ia sangat menyukai bunyi sapu lidi yang bergesek ritmis dengan permukaan kayu yang mulai lapuk,

srek... srek... srek...

bagi Sheila, itu adalah musik yang menenangkan, sebuah harmoni sederhana yang mampu meredam kebisingan dunia luar yang mulai terasa asing dan penuh dengan rahasia yang tidak ia mengerti. Bagi seorang penyandang disabilitas intelektual seperti dirinya, rutinitas adalah pelabuhan aman. Selama sapu itu bergerak, selama lantai itu bersih, maka dunianya baik-baik saja.

​Namun, gerakan sapu Sheila terhenti seketika saat matanya menangkap sesuatu yang asing di bawah meja makan kayu yang gelap. Sebuah amplop putih dengan logo merah hati dari sebuah rumah sakit tergeletak di sana, nampak mencolok dan mengancam di atas lantai yang berdebu. Karena rasa penasaran yang murni dan tanpa prasangka, Sheila meletakkan sapunya dan memungut amplop tersebut. Ia membukanya dengan hati-hati, jemarinya bergerak lembut seolah takut akan melukai kertas yang ada di dalamnya.

​Di dalamnya terdapat selembar kertas yang penuh dengan barisan tulisan medis dan tabel angka yang terasa dingin. Mata Sheila terpaku pada sebuah kolom di bagian bawah yang dicetak dengan tinta merah yang tajam dan tebal: "BIAYA RAWAT JALAN".

​Di samping tulisan itu, tertera deretan angka nol yang sangat panjang, nampak seperti barisan semut hitam yang berbaris menuju sebuah lubang gelap yang tak berdasar. Sheila memang tidak paham nilai nominal uang jutaan atau puluhan juta secara matematis, tapi warna merah itu memicu ketakutan naluriah di dasar jiwanya. Dalam kamus warna di kepala Sheila, merah berarti luka yang perih. Merah berarti darah yang mengucur dari lutut yang jatuh. Merah berarti tanda bahaya. Merah berarti sesuatu yang jahat yang akan merenggut kebahagiaannya.

​Tiba-tiba, sebuah tangan yang sangat kurus, dingin, dan nampak hanya terbungkus kulit keriput saja merebut kertas itu dari genggaman Sheila dengan gerakan yang sangat kasar, sebuah kekasaran yang belum pernah Sheila rasakan sebelumnya dari sosok lembut yang ia puja itu.

​"Sheila! Siapa yang suruh kamu buka-buka ini?! Masuk kamar sekarang!"

Lihat selengkapnya