Siulan Malaikat

ANTON SYAHRONI
Chapter #6

Mozaik Dari Kematian

Pagi di Karawang tidak pernah benar-benar sunyi, namun ia selalu memiliki cara tersendiri untuk menyapa mereka yang sedang berduka dengan frekuensi yang berbeda.

Di kejauhan, sayup-sayup terdengar deru mesin pabrik yang mulai menderu pelan, sebuah simfoni industri yang menjadi latar belakang hidup bagi ribuan manusia yang menggantungkan nasib di tanah Jawa Barat ini. Namun, di dalam rumah kayu yang mulai merapuh dan dimakan rayap itu, waktu seolah kehilangan porosnya. Ia tidak mengalir, ia hanya berputar-putar, tersangkut pada debu-debu yang menari liar di atas cahaya matahari pagi yang menyelinap masuk melalui celah-celah genting yang bergeser karena angin semalam.

​Cahaya itu nampak seperti deretan pedang perak yang menusuk kegelapan kamar, menerangi sebuah pemandangan yang sanggup menghancurkan hati siapa pun yang berani melihatnya.

Di atas lantai semen yang dingin, kusam, dan mulai retak di sana-sini, Sheila sedang bersimpuh. Ia tidak sedang bermain boneka, juga tidak sedang melamun menatap kosong ke langit-langit mencari jawaban yang tak ada. Tubuh remajanya membungkuk kaku, menciptakan siluet yang nampak jauh lebih tua dari usia aslinya, dengan napas yang tertahan-tahan di balik rongga dada yang sesak oleh firasat yang belum sanggup ia namai.

​Jemari mungilnya bergerak dengan ketelatenan yang luar biasa, seolah ia adalah seorang pengrajin perhiasan paling ulung yang sedang menangani butiran berlian paling langka dan paling mahal di muka bumi. Satu demi satu, dengan presisi yang mengharukan, ia memungut helai rambut hitam yang berceceran di lantai kamar Ibunya. Rambut-rambut itu nampak kusam, kehilangan binar kehidupan yang dulu selalu Sheila kagumi saat Ibunya duduk di depan cermin tua sambil menyenandungkan lagu pengantar tidur yang jernih.

​Kini, helai-helai itu nampak seperti benang-benang rapuh yang telah kehilangan jiwanya, mati sebelum waktunya karena hantaman zat kimiawi yang dipaksa masuk ke dalam aliran darah sang pemilik. Sheila memasukkan setiap helai itu ke dalam sebuah kantong plastik kecil dengan gerakan yang sangat lembut, hampir seperti sedang melakukan ritual pemakaman yang kudus. Baginya, apa yang ia pungut bukanlah sekadar limbah medis atau sampah rontok yang harus dibuang ke tempat sampah, melainkan serpihan keajaiban, sisa-sisa dari diri Ibunya yang harus diselamatkan dari kepunahan total.

Lihat selengkapnya