Siulan Malaikat

ANTON SYAHRONI
Chapter #7

Mahkota yang Terhempas

​Sore itu, langit Karawang nampak sangat muram, dibalut oleh lapisan awan mendung kelabu yang menggantung rendah seolah-olah ia sedang memikul beban air yang tak sanggup lagi ditahan oleh pundak semesta. Cahaya matahari tercekik di balik gumpalan uap, menyisakan warna abu-abu yang menindih bumi. Udara terasa sangat lembap, panas, dan berat, sebuah pertanda bahwa hujan besar akan segera turun membasuh debu-debu industri yang beterbangan dari arah cerobong pabrik-pabrik besar di kejauhan. Di samping sumur tua yang dindingnya sudah berlumut tebal dan licin, Andi sedang membantu Sheila menimba air untuk persediaan malam. Bunyi decit katrol sumur itu terdengar seperti rintihan panjang yang menyakitkan, memecah keheningan sore yang ganjil dan mencekam.

​Andi terhenti saat ia melirik ke arah tangan Sheila yang sedang memegang tali timba. Matanya terpaku pada noda-noda putih yang sudah mengering, mengerak, dan lengket di sepanjang jemari serta telapak tangan gadis itu. Tak hanya itu, beberapa helai rambut hitam nampak menempel secara acak di dahi dan lengan Sheila, memberikan kesan visual yang sangat ganjil, seolah gadis itu baru saja melakukan sebuah ritual terlarang yang aneh di balik pintu tertutup.

​"Kamu habis ngapain, Shei? Tanganmu kok lengket dan kotor semua begitu? Kamu main apa lagi?" tanya Andi, suaranya mengandung getaran khawatir yang dalam, sebuah nada yang lebih menyerupai seorang kakak yang takut adiknya tersesat. Ia meletakkan ember air yang sudah penuh, membiarkan airnya meluap membasahi tanah merah di sekitar sumur, menciptakan lumpur kecil yang becek.

​Sheila tidak menjawab dengan suara. Ia menoleh ke arah Andi dengan tatapan mata yang berbinar-binar penuh kemenangan yang murni, seolah ia baru saja menemukan kunci emas untuk membuka gerbang surga yang selama ini terkunci. Ia menunjuk ke arah kamar Ibunya dengan gerakan kepala yang sangat antusias, lalu melakukan gerakan tangan yang canggung di atas kepalanya sendiri, seolah sedang menunjukkan proses penobatan seorang ratu yang paling agung di dunia.

​“WIT...?” Sheila mengeluarkan siulan dengan nada bertanya yang tinggi, meliuk-liuk seperti burung kacer yang sedang memanggil kawannya di pagi hari, seolah meminta persetujuan dan pujian dari satu-satunya sahabat yang ia miliki di dunia ini.

​Andi mematung di samping sumur. Sebagai remaja yang sudah lebih dulu dipaksa dewasa oleh kemiskinan dan kenyataan hidup yang sekeras batu, Andi segera mengerti apa yang sedang diusahakan oleh sahabatnya yang polos ini. Ada rasa perih yang luar biasa merayap di dadanya, seperti ditikam oleh ribuan jarum yang membara, saat menyadari bahwa Sheila sedang mencoba melawan takdir, melawan kanker, dan melawan kematian hanya dengan sebotol lem kertas cair seharga beberapa perak. Ia melihat kepolosan yang begitu murni sehingga terasa sangat mengerikan untuk disaksikan. Kesetiaan Sheila melampaui nalar, namun kenyataan tidak pernah berbelas kasih pada mereka yang hanya punya cinta.

​"Shei..." Andi memulai dengan suara yang serak, matanya menatap tajam ke dalam mata Sheila yang jernih, mata yang belum tersentuh oleh kejamnya logika medis dan dinginnya ruang operasi. "Rambut itu nggak bisa ditempel lagi pakai lem, Shei. Ibu itu sakit di dalam tubuhnya, di dalam darahnya, bukan cuma rambutnya yang hilang. Kamu jangan aneh-aneh ya... nanti Ibu malah tambah sedih kalau lihat kamu begini. Buang saja itu, ya?"

Lihat selengkapnya