Siang itu, rumah kayu di pinggiran Karawang itu seolah kehilangan seluruh pasokan oksigennya. Udara di dalam ruang tengah terasa sangat pengap, berat, dan berdebu, bukan hanya karena ventilasi yang buruk atau cuaca luar yang sedang memanggang, melainkan karena beban perasaan yang menggantung tebal di setiap sudut ruangan yang kusam. Sheila duduk meringkuk di pojok ruangan yang paling gelap, sebuah sudut yang jauh dari pintu kamar Ibunya, seolah-olah ada jurang tak kasat mata namun sangat dalam yang kini memisahkan mereka berdua.
Di pangkuannya, ia masih memegang erat topi kain merah tua yang kini sudah hancur. Rambut-rambut tempelan itu sebagian terlepas akibat bentakan dan lemparan kemarin, menyisakan noda lem kering yang nampak seperti luka parut berwarna putih keruh di atas kain yang lusuh. Sheila mencoba mengerucutkan bibirnya yang pecah-pecah. Ia ingin bersiul, sekadar untuk menghibur hatinya yang sedang didera kebingungan hebat dan kesepian yang menggigit. Namun, otot-otot bibirnya terasa sangat kaku dan terus bergetar hebat. Tidak ada nada merdu yang keluar dari sana. Tidak ada siulan "Sayang" atau "Rindu". Yang terdengar hanyalah suara hembusan napas yang parau, pendek, dan tersendat: suara dari jiwa yang sedang tercekik.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sheila merasa ia benar-benar telah kehilangan "suaranya". Dunianya yang biasanya penuh dengan melodi, mulai dari suara angin yang bergesek di antara rimbun bambu hingga irama ritmis sapu lidi, kini berubah menjadi sunyi yang mencekam dan dingin. Kesunyian yang lebih menakutkan daripada kegelapan itu sendiri.
Kesunyian itu mendadak pecah oleh suara pintu kamar yang terbuka dengan sentakan kasar, seolah-olah pintu itu adalah bendungan yang baru saja jebol. Ibu Wulan keluar dari kamarnya dengan langkah yang sangat goyah, napasnya memburu seolah ia baru saja berlari maraton menembus badai di tengah padang pasir. Tangannya yang tinggal tulang-tulang yang menonjol memegang erat sebuah botol obat plastik transparan yang sudah kosong melompong. Wajahnya nampak sangat menderita: matanya merah menyala, bukan karena amarah yang tersisa dari kemarin, melainkan karena kurang tidur yang kronis dan rasa sakit fisik yang menjalar seperti api yang membakar setiap saraf dan sumsum tulangnya. Penyakit itu sedang mengamuk di dalam sana, merobek-robek organ dalamnya, menuntut dosis pereda nyeri yang kini sudah tidak mampu dibeli lagi oleh sisa-sisa recehan Andi.
Ibu Wulan berjalan terhuyung-huyung, satu tangannya meraba-raba dinding kayu yang kasar untuk mencari tumpuan agar raga yang tinggal bayang-bayang itu tidak jatuh. Ia menuju dapur dengan pandangan yang kabur dan berkunang-kunang, dunia di matanya nampak seperti televisi tua yang kehilangan sinyal, hanya bintik-bintik abu-abu dan kebisingan statis. Ia sama sekali tidak menyadari kehadiran Sheila yang sedang memperhatikannya dari sudut ruangan dengan mata membulat penuh kecemasan. Bagi Ibu Wulan saat itu, dunia hanya berisi rasa sakit yang berdenyut-denyut di ulu hati dan tenggorokannya yang terasa kering kerontang seolah-olah ia baru saja menelan pasir panas yang membara.
Di dapur, pemandangan menjadi semakin tragis. Ibu Wulan mencoba menggapai teko plastik di atas meja untuk membasahi kerongkongannya yang perih, namun teko itu terasa sangat ringan: kosong tanpa setetes air pun. Ia beralih ke arah ember di dekat bak cuci yang berlumut, mencoba meraih gayung dengan sisa-sisa tenaganya yang sudah mencapai batas ambang manusia normal. Namun, tepat saat ujung jarinya menyentuh gagang gayung yang basah, kakinya tiba-tiba mati rasa, seolah-olah seluruh pasokan darah dan perintah sarafnya baru saja diputus secara paksa oleh takdir yang kejam.
BRUAAK!
Tubuh kurus itu jatuh menghantam lantai dapur yang lembap dengan suara yang memilukan. Ibu Wulan jatuh tertelungkup, menghantam tumpukan piring plastik dan ember kosong yang menimbulkan suara gaduh yang memekakkan telinga, bergema ke seluruh sudut rumah. Piring-piring itu berhamburan ke segala arah, berputar-putar di lantai sebelum akhirnya diam, menciptakan kekacauan yang memilukan di atas lantai yang becek oleh sisa air cucian yang kotor.
"I-bu!" Sheila menjerit tertahan.