Sheila tidak tahan lagi menahan beban atmosfer yang mendadak membeku di dapur itu. Oksigen seolah lenyap, digantikan oleh partikel-partikel penyesalan yang tajam dan dingin. Ia tidak sanggup lagi memikul beban tatapan Ibunya, sebuah tatapan yang merupakan campuran antara kebencian pada diri sendiri, rasa malu yang telanjang, dan keputusasaan yang meledak hebat. Tatapan itu terasa seperti belati yang menghujam tepat di tengah dadanya yang polos, merobek rasa percaya dirinya yang selama ini hanya berpijak pada senyum sang Ibu. Tanpa berpikir panjang, Sheila berbalik dan lari keluar dari rumah itu secepat yang ia bisa. Kakinya bergerak liar, canggung, dan bertenaga, seolah-olah ia sedang dikejar oleh hantu masa lalunya sendiri yang paling menakutkan: hantu kegagalan.
Ia menabrak pintu depan hingga terbuka lebar, membiarkan engselnya yang berkarat menjerit protes panjang. Ia sama sekali tidak memedulikan angin sore yang bertiup kencang, sebuah angin yang membawa aroma tanah basah dan rintik hujan yang mulai turun membasuh bumi Karawang yang gersang. Langkah kakinya yang berat dan tidak beraturan membawa dia berlari ke arah belakang rumah, menjauhi peradaban kecil yang kini terasa seperti penjara emosi. Ia menembus semak belukar yang berduri, membiarkan ranting-ranting tajam menggores lengan dan tungkai kakinya yang tak terlindungi. Darah tipis muncul di permukaan kulitnya, namun ia tak peduli. Tujuannya hanya satu: kebun bambu. Satu-satunya tempat di mana ia merasa benar-benar diterima oleh alam tanpa harus menjelaskan siapa dirinya, tanpa perlu kata-kata, tanpa perlu menjadi "normal".
Kebun bambu itu sedang dalam kondisi yang riuh, seolah alam semesta sedang ikut mengamuk dan berduka bersamanya. Batang-batang bambu hijau yang tinggi bergoyang liar ditiup angin sore yang kencang, saling bergesekan satu sama lain dan mengeluarkan suara kriet-kriet yang mengerikan di tengah remang senja. Suara itu terdengar seperti rintihan ribuan jiwa yang sedang menangis secara serempak di tengah hutan yang gelap. Sheila sampai di tengah-tengah kebun itu dan langsung jatuh terjerembap di atas tanah merah yang becek. Ia tidak berusaha untuk bangkit atau sekadar membersihkan debu di wajahnya. Ia tetap berlutut di sana, membiarkan lumpur dingin mengotori bajunya yang lusuh dan lututnya yang mulai memar keunguan.
Tangan Sheila mulai memukul-mukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan yang kencang, menciptakan suara buk... buk... buk... yang tumpul di tengah deru angin. Ia mencoba mengeluarkan rasa sesak yang seolah ingin meledakkan jantungnya dari dalam. Air mata yang hangat dan air hujan yang dingin bercampur di wajahnya, mengalir masuk ke dalam mulutnya yang terasa pahit oleh rasa getir kenyataan. Ia mencoba bicara. Otaknya berteriak, memaksa pita suaranya untuk melahirkan kata-kata manusia yang sempurna. Di dalam kepalanya, ia berteriak dengan sangat lantang, suara yang jernih dan kuat:
"Maafkan Sheila, Ibu! Sheila hanya ingin Ibu cantik lagi! Sheila tidak mau Ibu mati!"
Namun, realitas fisik adalah penjara yang kejam. Lidahnya tetap kelu, seolah-olah syaraf bicaranya telah diputus oleh takdir sejak ia berada di dalam rahim. Tenggorokannya yang tersekat oleh kesedihan yang maha dahsyat hanya mampu mengeluarkan suara erangan parau yang menyakitkan. Sebuah suara yang terdengar lebih mirip rintihan hewan buruan yang sedang sekarat di dalam perangkap daripada suara seorang gadis remaja. Sheila merasakan frustrasi yang luar biasa, ia memiliki samudera perasaan yang begitu luas dan dalam, namun ia terjebak dalam raga yang tidak mampu melahirkan satu pun dermaga kata-kata untuk menjelaskan isinya.