Gerimis di kebun bambu itu tidak hanya membasahi bumi Karawang yang haus, tetapi seolah meresap masuk menembus lapisan dermis, mengalir di antara sela-sela tulang, dan membekukan darah Sheila yang sudah mendingin karena syok. Di atas tanah merah yang becek dan licin itu, Sheila merasa dirinya telah luruh, tidak lebih dari seonggok daging tanpa jiwa yang teronggok di bawah rimbun dedaunan yang tajam. Bahunya berguncang hebat dalam ritme kesedihan yang tak terkendali, sebuah isak tangis tanpa suara yang jauh lebih menyakitkan daripada raungan mana pun. Di dalam tempurung kepalanya, bayangan kepala Ibunya yang botak, pucat, dan terekspos secara brutal tadi terus berputar-putar seperti kaset rusak yang tersangkut. Ia merasa seperti seorang penjahat yang paling keji, seorang anak yang baru saja merampas satu-satunya benteng perlindungan terakhir, satu-satunya harga diri yang mati-matian dijaga oleh orang yang paling ia cintai di muka bumi ini.
Lalu, sebuah kehangatan yang asing namun akrab mendarat di pundaknya yang gemetar. Itu bukan sinar matahari yang menembus mendung, melainkan sebuah jaket jeans kusam dengan warna yang sudah lama menyerah pada matahari. Baunya sangat Sheila kenali: campuran antara keringat jujur, debu jalanan dari knalpot motor yang bising, dan sisa-sisa bau sabun murah. Bau Andi.
Andi tidak mengucapkan kata-kata penghiburan yang klise. Ia tidak mengatakan "semua akan baik-baik saja" karena ia tahu itu adalah kebohongan paling besar yang bisa diucapkan manusia saat ini. Andi tahu Sheila tidak butuh belas kasihan yang dangkal. Andi hanya ikut berlutut, membiarkan lutut celana jeansnya sendiri kotor oleh lumpur merah yang sama, menyetarakan posisinya dengan kehancuran Sheila. Ia memegang kedua pundak Sheila dengan cengkraman yang mantap, memberikan tekanan yang solid seolah-olah ia sedang berusaha menyatukan kembali kepingan-kepingan jiwa Sheila yang baru saja pecah berserakan di tanah.
"Ibu butuh operasi, Shei. Bukan cuma obat warung yang bisa kita cicil, atau herbal pahit yang sering kita beli dengan uang receh di pasar," suara Andi rendah, namun bergetar oleh ketegasan yang mencoba menembus kabut keputusasaan di mata Sheila yang biasanya jernih. "Biayanya mahal sekali... jutaan. Kita nggak akan dapat uang itu kalau cuma diam di sini, meringkuk di lumpur, dan menangis sampai kebun bambu ini banjir."
Jutaan. Kata itu mendarat di telinga Sheila dengan dentum yang lebih keras daripada guntur yang baru saja menyalak di langit. Di dalam dunia Sheila yang sederhana, dunia yang batas-batasnya ditentukan oleh aroma dapur dan rimbun bambu, uang seribu rupiah berarti satu plastik es lilin yang manis, dan sepuluh ribu berarti sebuah kemenangan kecil berupa makan malam yang layak dengan lauk telur dadar. "Jutaan" adalah sebuah angka mitologi, angka yang hanya ada di dalam kotak televisi tetangga, sebuah konsep abstrak yang kini mendadak menjelma menjadi tembok raksasa yang memisahkan antara hidup dan mati Ibunya. Sheila terdiam, napasnya memburu. Matanya menatap jari-jari Andi yang kasar dan berdaki: jari-jari seorang pekerja keras yang juga sedang berjuang melawan kemiskinan yang sama. Ia menyadari satu hal dengan sangat jernih: air matanya, sebanyak apa pun itu mengalir, tidak akan pernah bisa membeli satu butir pun sel kanker dari tubuh Ibunya. Kesedihan adalah kemewahan yang tidak mampu ia beli saat ini.