Siulan Malaikat

ANTON SYAHRONI
Chapter #11

Menerjang Kota, Menantang Bising

​Dini hari yang buta menyambut Sheila di depan pagar rumahnya yang reyot. Langit Karawang masih hitam pekat, tanpa sisa bintang, seolah seluruh semesta sedang menahan napas menyaksikan keberangkatan seorang pejuang kecil. Udara pagi yang biasanya lembap kini terasa tajam dan kering, menusuk pori-pori kulit hingga ke sumsum tulang. Di sana, di bawah remang lampu jalan yang berkedip-kedip sekarat, Andi sudah menunggu di atas sepeda jengki tua yang sudah ia bersihkan seadanya.

​Sepeda itu adalah saksi bisu kemiskinan mereka, namun pagi ini, ia nampak seperti kereta perang. Di boncengan belakang, Andi telah mengikatkan bantalan busa tipis yang ia balut dengan kain bekas, lalu diikat dengan tali rafia yang ditarik sangat kuat. Andi tahu perjalanan ini akan panjang, menempuh puluhan kilometer aspal yang tak ramah, dan ia tidak ingin Sheila menyerah hanya karena punggungnya pegal atau hatinya yang mendadak ciut di tengah jalan. Sebuah ukulele tua yang kayu-kayunya sudah mulai mengelupas tergantung di leher Andi, nampak sangat kontras dengan jaket oversize miliknya yang membuat tubuh kurusnya terlihat semakin kecil.

​"Sudah siap? Kita ke kota sekarang, Shei," kata Andi sambil memperbaiki posisi letak tas kain di punggungnya. Suaranya tidak lagi mengandung keraguan: suaranya adalah jangkar. "Kita cari uang di sana. Kamu yang bernyanyi lewat siulan, aku yang petik senarnya. Orang kota mungkin punya gedung tinggi, punya mobil mewah, punya segalanya, tapi mereka pasti belum pernah dengar suara dari surga yang kamu punya dalam bibirmu itu."

​Andi mulai mengayuh. Sepeda itu mengeluarkan suara derit besi yang memecah kesunyian subuh yang sakral, seolah-olah besi-besi tua itu sedang meratap atau mungkin bersorak. Sheila duduk di belakang, kedua tangannya memegang pinggang Andi erat-erat, jari-jarinya mencengkram kain jaket Andi seolah pria itu adalah satu-satunya pelampung yang tersisa agar ia tidak tenggelam dalam samudera ketakutan yang gelap.

​Mereka melewati hamparan sawah yang luas, di mana kabut masih menyelimuti pucuk-pucuk padi seperti selimut putih yang tebal dan dingin. Angin subuh menerpa wajah Sheila dengan kasar, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa pupuk kimia: aroma kebebasan yang terasa sangat asing sekaligus menakutkan bagi seorang gadis yang selama hidupnya habis di balik rimbun bambu.

​Perlahan namun pasti, pemandangan mulai berubah secara drastis. Pohon-pohon bambu yang biasanya membisikkan doa dan persawahan yang menenangkan mulai menghilang satu per satu dari pandangan, digantikan oleh bangunan beton yang kaku, dingin, dan angkuh. Lampu-lampu merkuri jalan raya mulai menyilaukan mata Sheila, memaksanya untuk terus berkedip. Aspal yang tadinya berlubang dan dipenuhi debu tanah merah kini berubah menjadi jalan raya yang lebar, hitam, dan mulus. Dan di sana, sebuah papan reklame raksasa menyambut mereka dengan cahaya neon yang seolah-olah berteriak: "KOTA - 15 KM".

Lihat selengkapnya