Matahari baru saja naik setinggi galah ketika roda sepeda jengki Andi melindas genangan air hitam yang menggenang di gerbang pasar. Karawang pagi itu terasa pengap, sebuah ruang hampa udara yang dipenuhi oleh partikel-partikel yang saling berebut tempat. Suasananya jauh berbeda dengan kebun bambu yang selalu memberikan ruang luas bagi paru-paru Sheila untuk sekadar bernapas. Di sini, udara adalah sebuah campuran kimiawi yang brutal: bau amis darah ayam yang baru disembelih, aroma sayuran yang mulai membusuk di sudut drainase, dan asap knalpot motor yang menderu tanpa henti... semuanya menyatu dalam sebuah kepulan debu yang menyesakkan.
Sheila turun dari boncengan dengan kaki yang gemetar hebat, seolah tulang-tulangnya baru saja berubah menjadi jelly. Tangannya tidak lepas mencengkram ujung baju Andi, meremas kain kusam itu hingga kusut masai, seakan-akan jika ia melepaskannya sedikit saja, ia akan tersedot ke dalam lubang hitam kerumunan yang tak berpintu.
Bagi orang normal, pasar mungkin hanyalah tempat mencari nafkah, sebuah pusat ekonomi yang bising. Namun bagi Sheila, pasar adalah sebuah neraka sensorik. Setiap teriakan pedagang sayur yang menjajakan dagangannya dengan suara parau terdengar seperti tusukan jarum yang menghunjam langsung ke gendang telinganya. Klakson motor yang bersahutan seperti jeritan monster logam yang menuntut jalan tanpa belas kasihan. Ia merasa kecil, sangat kecil, seolah-olah tubuhnya yang kurus itu hanyalah butiran debu yang bisa digilas oleh kaki-kaki perkasa para kuli panggul kapan saja tanpa ada satu pun orang yang menyadari atau sekadar menoleh.
Andi menuntun sepedanya melewati lorong-lorong sempit yang becek oleh sisa es balok dan air cucian ikan. Ia mencari celah di antara lapak penjual ikan yang dipenuhi lalat dan tumpukan peti kayu yang berserakan.
"Di sini saja, Shei," bisik Andi, suaranya nyaris hilang ditelan hiruk-pikuk. Ia mencoba memberikan senyum yang paling menenangkan, sebuah senyum yang membawa sedikit aroma kebun bambu ke tengah kekacauan ini.
Ia menyandarkan sepedanya pada sebuah tiang beton tua yang berlumut dan retak-retak. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat untuk menenangkan Sheila, Andi mulai mengeluarkan ukulele dari tasnya dan menyetem senarnya. Suara tring jernih dari instrumen kayu itu sempat mencoba melawan kebisingan sekitar, namun dalam sekejap saja suara itu langsung tenggelam oleh raungan mesin penggiling daging di lapak sebelah yang sedang menghancurkan tulang-tulang sapi dengan bunyi yang mengerikan.