Siulan Malaikat

ANTON SYAHRONI
Chapter #13

Ketika Langit Pasar Terdiam

Suasana makin memanas ketika sebuah bayangan besar yang legam mendadak menutupi cahaya matahari yang mencoba masuk ke lorong pasar yang sempit. Kehadirannya membawa hawa dingin yang mengancam, memutus percakapan kasar para pedagang di sekitar. Seorang pria bertubuh gempal, dengan kulit yang terpanggang matahari dan tato ular yang sudah memudar serta berkerut di lengan kanannya, melangkah maju dengan angkuh. Ia mengunyah sebuah tusuk gigi kayu, menggerakkannya dari sudut bibir ke sudut lainnya dengan tatapan yang sangat merendahkan, menatap Andi dan Sheila seolah-olah mereka adalah sepasang hama yang baru saja merayap masuk dan merusak pemandangan wilayah kekuasaannya.

​Tanpa peringatan, preman pasar itu mengayunkan kaki botnya, menendang sebuah kaleng biskuit kosong yang berada di depan kaki Andi.

TANG!

​Bunyi dentang besi yang nyaring dan mendadak itu mengejutkan semua orang di lorong tersebut, membuat beberapa pembeli berjengit ketakutan.

​"Woi! Siapa yang izinkan kalian main sirkus di sini? Mana uang lapaknya?! Memangnya ini pasar nenek moyangmu?!" suaranya parau, berat oleh racun nikotin selama bertahun-tahun, dan dipenuhi dengan nada intimidasi yang sanggup menciutkan nyali siapa pun yang mendengar.

​Andi seketika berhenti memetik ukulele. Wajahnya yang semula penuh harap kini berubah menjadi sepucat kertas. Namun, ada sebuah kekuatan yang lahir dari rasa setia kawan yang dalam: ia tidak mundur. Andi tetap berdiri tegak tepat di depan Sheila, memposisikan dirinya sebagai perisai yang rapuh namun berani.

​"Maaf, Bang. Kami benar-benar baru di sini. Kami... kami cuma mau cari uang buat berobat Ibu kami yang sedang sakit keras di rumah..." Andi mencoba bernegosiasi dengan nada yang paling sopan, mencoba menyentuh sisi kemanusiaan pria di depannya, meski tangannya yang memegang leher ukulele yang mungil itu gemetar sangat hebat.

​Preman itu terdiam sejenak, lalu tawa jahatnya meledak, mengguncang perutnya yang buncit. Ia tertawa seolah baru saja mendengar lelucon paling konyol abad ini, sebuah tawa yang menghina kejujuran dan kemiskinan Andi. Ia maju satu langkah lagi, memperpendek jarak hingga hidungnya hampir bersentuhan dengan dahi Andi, lalu mendorong dada remaja itu dengan telapak tangannya yang kasar hingga Andi terhuyung ke belakang dan hampir menabrak tumpukan peti sayur.

​Mata preman itu kini beralih sepenuhnya ke arah Sheila. Dengan cara yang sangat menjijikkan dan merendahkan, ia mulai memonyongkan bibirnya dengan gerakan yang dilebih-lebihkan, menirukan posisi mulut Sheila saat bersiul, sambil membuat wajahnya nampak buruk dan bodoh.

​"Berobat apa? Si gagu ini mau nyanyi? Mau pamer mulut monyong di sini, hah?!" Preman itu kembali mendorong bahu Andi, kali ini lebih keras. "Jangan bikin sampah di sini! Pergi sekarang sebelum aku pecahkan gitar kecilmu ini di kepalamu sampai senarnya putus semua!"

Lihat selengkapnya