Matahari sore di ufuk barat Karawang nampak seperti luka yang menganga, memuntahkan warna jingga kemerahan yang kental dan pekat di atas lantai beton stasiun yang dingin, kaku, dan tak berjiwa. Cahaya itu tidak terasa hangat: ia justru nampak seperti peringatan akan waktu yang terus tergerus. Bagi Sheila, bayangan panjang yang tercipta di bawah kakinya terasa seperti jari-jari raksasa yang merayap di atas semen, mencoba menariknya kembali ke dalam pusaran kesunyian gelap yang selama ini mengurungnya. Ia berdiri di dekat pintu keluar penumpang (sebuah titik strategis namun luar biasa mengintimidasi) di mana arus manusia mengalir deras seperti air bah yang tak terbendung, menghantam kewarasan siapa pun yang berdiri diam di sana. Sheila kembali meremas jemarinya hingga buku-bukunya memutih dan kuku-kukunya menekan telapak tangan, sebuah kebiasaan lama yang muncul secara insting setiap kali jiwanya merasa terancam oleh hiruk-pikuk dunia luar yang seolah siap menelan eksistensinya tanpa sisa.
Andi, yang berdiri tepat di sampingnya, nampak jauh lebih bersemangat, seolah ia memiliki baterai cadangan di dalam dadanya. Energinya seolah tak terkuras meski peluh telah mengering berulang kali di keningnya, meninggalkan noda garam putih yang artistik di kaos kusamnya. Ia mengeluarkan kaleng bekas biskuit, tempat penyimpanan uang hasil "pertempuran" berdarah di pasar tadi.
"Lihat, Shei. Kita sudah punya modal. Kita bukan lagi nol," bisik Andi dengan mata yang berbinar-binar, memamerkan tumpukan lembaran uang yang kumal, lecek, dan berbau amis pasar yang menyengat. Namun, di mata mereka yang sedang terdesak, kertas-kertas lusuh itu nampak berkilau seperti emas murni yang baru digali dari tambang. Itu adalah bukti otentik bahwa mereka tidak lagi tidak berdaya, bahwa suara Sheila (meski tanpa kata-kata) memiliki nilai tawar yang sah di atas kerasnya aspal kota Karawang.
Tak lama kemudian, suara bel stasiun yang monoton berbunyi nyaring, disusul oleh deru mesin kereta yang berhenti dengan decit besi beradu yang memekakkan telinga. Gesekan roda kereta itu menciptakan percikan imajiner dalam rungu Sheila, sebuah kebisingan industri yang menyakitkan. Ratusan orang tumpah ruah dari pintu keluar seperti bendungan yang jebol secara paksa. Mereka adalah barisan manusia yang kelelahan: wajah-wajah kaku yang terbakar oleh beban kerja delapan jam, mata yang terpaku layu pada layar ponsel seolah mencari pelarian dari realitas yang menjemukan, dan langkah kaki yang terburu-buru seolah setiap detik yang terbuang adalah musuh yang harus dibunuh dengan langkah lebar. Keberadaan Sheila dan Andi di pojok peron itu nampak seperti butiran debu yang tak berarti di tengah badai kepasifan massal yang bergerak mekanis.
Andi mulai memetik ukulelenya. Kali ini, jarinya bergerak lebih taktis, lebih penuh perasaan. Ia tidak memainkan irama pasar yang kasar, cepat, dan provokatif. Ia memilih melodi ballad yang lembut, sebuah rangkaian nada minor yang merayap pelan, menyelinap dengan sopan di antara celah kebisingan langkah kaki dan pengumuman operator stasiun yang bergaung dingin.