Senja yang tadi berwarna jingga luka telah sepenuhnya luruh, berganti menjadi kegelapan malam yang dingin, yang kini hanya dihiasi oleh lampu-lampu neon stasiun yang berkedip-kedip sekarat. Cahaya artifisial itu memantul di atas permukaan semen yang lembap, menciptakan aura suram yang kontras dengan kehangatan sisa-sisa melodi Sheila yang masih menggantung di udara. Di pinggir kerumunan yang semakin memadat, di antara bahu-bahu manusia yang masih terpesona, seorang pemuda dengan jaket oversized berwarna gelap dan sebuah kamera DSLR yang tergantung kokoh di lehernya terpaku diam.
Pemuda itu bernama Reza. Sebagai seorang konten kreator yang telah malang melintang di belantara digital, ia terbiasa melihat hal-hal unik, aneh, bahkan provokatif demi sebuah angka engagement. Namun, apa yang disaksikan matanya sekarang adalah sesuatu yang melampaui sekadar estetika visual. Ia tidak sedang melihat seorang pengemis, ia sedang melihat sebuah fenomena murni yang lahir dari penderitaan.
Reza segera menyalakan kameranya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, hampir menyerupai predator yang tak ingin mengejutkan mangsanya, ia mulai merekam secara candid. Melalui lensa kamera yang tajam itu, ia menangkap detail-detail yang menyayat hati namun luar biasa estetis: tetesan keringat yang mengalir pelan di dahi Sheila yang pucat, jemari Andi yang lincah menari (nyaris gemetar) di atas senar ukulele yang senarnya mulai menghitam, dan ekspresi tulus di wajah Sheila yang nampak seolah ia sedang berada di dimensi lain, jauh dari kebisingan Karawang. Reza menahan napas, ia tahu, ia baru saja menemukan sebuah permata yang tak terasah di tengah tumpukan sampah kota. Lensa itu kini menjadi saksi bisu atas kelahiran sebuah legenda kecil.
Seorang anak kecil yang digandeng erat oleh ibunya perlahan mendekat ke arah Sheila tepat saat nada siulannya berakhir dalam sebuah getaran yang panjang dan lirih. Si anak kecil itu, dengan mata bulat yang penuh kekaguman, menyodorkan sekotak susu stroberi dan sekeping uang logam yang nampak berkilat terkena cahaya lampu peron.
Sheila membuka matanya perlahan. Dunianya yang tadi dipenuhi bayangan kebun bambu kini kembali ke realitas beton, namun kali ini realitas itu tidak terasa menyakitkan. Ia disambut oleh senyum polos sang anak, sebuah bentuk penerimaan yang belum pernah ia dapatkan dari orang asing seumur hidupnya.
"Kakak, suaranya seperti burung di taman. Bagus banget," ucap anak itu dengan suara cempreng yang jujur, tanpa ada jejak belas kasihan yang menghina.