Siulan Malaikat

ANTON SYAHRONI
Chapter #16

Hadiah Dari Jalanan

Rumah tua di pinggiran Karawang itu menyambut Sheila dengan aroma yang sangat akrab, namun kali ini terasa lebih menyesakkan: bau kayu yang lembap karena usia, sisa-sisa jelaga minyak tanah dari dapur, dan aroma obat-obatan kimia yang mulai memudar, dikalahkan oleh pengapnya udara malam yang terperangkap di dalam ruangan. Kegelapan pekat mulai merayap masuk melalui celah-celah dinding kayu yang bolong, hanya diterangi sedikit cahaya samar dari langit malam, menciptakan garis-garis cahaya yang membelah debu-debu halus yang beterbangan statis, seolah waktu di dalam gubuk ini sengaja dihentikan oleh takdir.

​Di sudut ruangan yang paling remang, Ibu Wulan sedang duduk melamun di atas dipan kayu yang sudah meleyot. Matanya yang cekung dan berbayang hitam menatap kosong pada bingkai foto almarhum suaminya yang sudah berdebu di dinding, seolah-olah ia sedang menanti sebuah jawabanada (atau mungkin sebuah jemputan) yang tak kunjung datang dari alam sana. Tubuhnya nampak jauh lebih kecil dibandingkan pagi tadi, seolah kanker itu baru saja melahap beberapa kilogram lagi dari dagingnya saat Sheila tidak ada.

​Sheila berdiri diam membeku di ambang pintu. Jantungnya berdegup kencang, sebuah perpaduan antara rasa lelah yang luar biasa yang membuat sendi-sendinya linu, dan rasa bangga yang meledak-ledak di dadanya. Ia menarik napas sedalam-dalamnya, merasakan udara Karawang yang mulai mendingin dan membawa aroma tanah basah memenuhi paru-parunya. Lalu, ia mengerucutkan bibirnya yang pecah-pecah dan mengeluarkan satu nada siulan panjang yang sangat jernih.

​Itu bukan siulan jalanan yang tajam untuk menembus bisingnya pasar atau stasiun, itu adalah ketukan pintu yang paling sopan, sebuah sapaan kasih sayang yang hangat dan lembut, yang memecah keheningan ruangan yang membeku itu seperti sinar matahari pertama setelah badai.

Ibu ​Wulan menoleh perlahan, lehernya seolah kaku karena terlalu lama terpaku pada duka. Sebuah senyum lemah yang nampak lebih seperti kerutan lelah yang dipaksakan, muncul di wajahnya yang tirus dan sepucat porselen retak.

​"Kamu dari mana saja, Nak? Baru pulang sekarang?" Suaranya parau, hampir tak terdengar, terjepit di antara tenggorokan yang kering dan napas yang pendek.

Lihat selengkapnya