Suasana di dalam rumah tua itu, yang biasanya terasa mencekam dan menyesakkan seolah-olah kematian telah mengambil kapling di setiap sudutnya, kini mendadak berubah secara drastis. Ruangan yang pengap itu terasa sangat hangat, bukan karena suhu udara Karawang yang memanas di penghujung April, melainkan karena tembok-tembok kayu yang mulai lapuk itu seolah ikut bernapas lega menyaksikan sebuah penebusan dosa yang agung.
Dengan sisa tenaga yang tersisa, Ibu Wulan perlahan merentangkan kedua lengannya, mengabaikan nyeri yang menusuk rahimnya. Ia tidak lagi mampu menahan bendungan emosi yang selama ini menyumbat dadanya hingga terasa sesak. Dengan gerakan yang penuh kerinduan, ia memeluk pinggang Sheila dengan sangat erat, menyembunyikan wajah pucat dan tirusnya di perut anaknya, dan menangis tersedu-sedu. Tubuhnya yang ringkih terguncang hebat, melepaskan sisa-sisa kewarasan yang hampir runtuh oleh penderitaan panjang.
Isak tangis itu bukan lagi raungan kesakitan karena kanker yang menggerogoti tubuhnya, itu adalah suara dari beban bertahun-tahun yang akhirnya terlepas. Itu adalah pengakuan dosa dari seorang ibu yang merasa telah gagal melindungi harta paling berharganya, seorang ibu yang pernah membiarkan keputusasaan mengaburkan kasih sayangnya.
"Maafkan Ibu, Shei... maafkan Ibu yang waktu itu kasar padamu di dapur," isaknya di sela tangis yang membasahi daster lusuh Sheila. "Maafkan Ibu yang pernah marah, yang pernah menjerit histeris karena merasa tak berdaya melihatmu menderita. Ibu sangat mencintaimu, Nak. Kamu adalah malaikat yang Ayahmu titipkan untuk menjaga Ibu yang lemah ini. Ibu tidak pantas mendapatkan anak semulia kamu. Ibu sungguh tidak pantas..."
Sheila terdiam membeku dalam pelukan itu. Dunia seolah berhenti berputar di sekitar mereka. Ia membelai pundak Ibunya yang kini terasa sangat kurus, hanya menyisakan struktur tulang yang menonjol dibalut kulit yang tipis dan kusam. Rasa haru yang membuncah membuat tenggorokannya terasa tersumbat, seolah ada gumpalan pasir yang menghalangi jalan napasnya. Namun, ia tetap tidak bisa bicara. Lidahnya tetap kaku, tetapi jiwanya kini lebih vokal dari sebelumnya.
Sebagai gantinya, Sheila mengeluarkan siulan rendah yang sangat hangat... sebuah nada dengan frekuensi getaran yang lembut dan stabil, yang terasa seperti pelukan fisik yang nyata bagi batin Ibu Wulan yang sedang hancur lebur. Ia ingin meyakinkan Ibunya, tanpa perlu satu kata pun yang sering kali justru salah dimengerti, bahwa kemarahan tempo hari sudah ia lupakan. Ia telah menguburnya dalam-dalam di bawah debu jalanan stasiun dan kebisingan pasar yang ia lalui hari ini. Bagi Sheila, cinta tidak butuh kata maaf yang bersuara: cinta hanya butuh kehadiran yang utuh.
Di luar pintu yang sedikit terbuka dan berdecit tertiup angin malam, Andi berdiri diam membeku di balik kegelapan. Ia menyaksikan adegan itu dengan hati yang tersayat sekaligus lega luar biasa. Cahaya lampu minyak yang temaram dari dalam ruangan menciptakan siluet dua wanita yang paling berarti dalam hidupnya. Andi tidak ingin masuk, ia tidak ingin merusak dinding tipis yang membatasi kesakralan momen tersebut.