Siulan Malaikat

ANTON SYAHRONI
Chapter #18

Melawan Debu dan Bising

​Subuh di Karawang bukan dimulai dengan kicauan burung yang merdu atau pendar cahaya yang lembut, melainkan dengan geraman brutal mesin truk tronton yang memuntahkan asap hitam pekat ke langit yang masih berwarna ungu tua. Udara pagi itu sangat dingin, jenis dingin yang tidak hanya hinggap secara fisik di permukaan kulit, tetapi seolah memiliki kecerdasan jahat untuk menyelinap masuk melalui pori-pori dan bersarang di dalam sumsum tulang. Sheila berdiri gemetar di antara raksasa-raksasa besi yang menderu itu, mengenakan jaket lusuh kebesaran peninggalan almarhum Ayahnya. Jaket itu bukan sekadar pelindung tubuh, aromanya yang apek namun akrab masih menyimpan sisa-sisa kenangan masa lalu, sebuah pelukan imajiner yang memberinya sedikit keberanian di tengah hutan beton yang asing. Di bawah bayang-bayang ban raksasa truk logistik, Sheila merasa seperti semut yang tersesat di tengah gerombolan gajah yang siap menginjaknya tanpa sadar.

​Andi mulai memetik ukulele dengan jari-jari yang kaku karena embun. Suara instrumen kayu itu terdengar sangat kecil, nyaris tercekik dan mati sebelum sempat melesat, tertelan oleh deru mesin diesel yang bergetar hebat. Sheila menarik napas dalam-dalam, merasakan dinginnya udara subuh yang menusuk paru-parunya seperti ribuan jarum es. Ia mulai mengerucutkan bibirnya. Ia mulai bersiul.

​Awalnya, suara itu benar-benar tenggelam. Nada-nada yang ia keluarkan seolah ditelan bulat-bulat oleh kebisingan pasar induk yang mulai berdenyut liar. Suara klakson, teriakan kernet, dan gesekan aspal yang kasar menciptakan tembok suara yang tak tertembus. Namun, Sheila tidak menyerah. Di dalam kegelapan batinnya, ia membayangkan wajah Ibunya yang sedang meringkuk kesakitan di atas dipan lapuk rumah mereka. Ia membayangkan kaleng biskuit karatan yang masih membutuhkan banyak isi untuk membayar napas tambahan sang Ibu. Perlahan, amarah dan tekadnya bersenyawa, menciptakan sebuah frekuensi baru. Suaranya yang jernih mulai membelah kabut fajar, melesat tajam dan melengking di antara teriakan kuli panggul, menembus lapisan bising yang paling tebal sekalipun.

​Seorang sopir truk yang sedang duduk lesu di dalam kabinnya, menyesap kopi pahit dari gelas plastik, mendadak tertegun. Ia menurunkan kaca jendela, mencari sumber suara yang tak lazim di tempat sekotor ini. Begitu melihat sosok mungil Sheila, ia terdiam sejenak sebelum akhirnya melempar sebuah koin logam keluar jendela. Koin itu melayang di udara, lalu berdenting jatuh di atas aspal yang masih basah oleh sisa hujan semalam. Bagi Sheila, bunyi denting logam itu terdengar lebih merdu, lebih suci, daripada simfoni orkestra mana pun di dunia. Itu adalah poin kemenangan pertama hari itu, sebuah tanda bahwa peradaban yang bengis ini masih memiliki celah kecil untuk sebuah apresiasi.

​Menjelang siang, wajah Karawang berubah total. Matahari tidak lagi malu-malu, ia menjelma menjadi pemanggang raksasa yang menggantung tepat di atas kepala. Area parkir yang luas tanpa satu pun pepohonan untuk berteduh itu seolah membakar kulit Sheila hingga memerah dan terasa perih. Napasnya mulai pendek, dadanya terasa sesak oleh kepulan polusi karbon monoksida dan debu halus yang beterbangan liar ditiup angin panas.

Lihat selengkapnya