Sore itu, atmosfer Karawang terasa lebih berat dari biasanya. Debu jalanan yang terbang tertiup angin seolah sengaja hinggap dan mengeringkan apa pun yang basah. Di sudut sebuah halte yang nyaris roboh, bibir Sheila benar-benar sudah mencapai batas ketahanan manusiawi. Kulit tipis yang biasanya menjadi instrumen musiknya kini pecah-pecah, memperlihatkan garis-garis merah yang pedih, menyisakan rasa perih yang luar biasa menusuk setiap kali ia mencoba mengerucutkan mulutnya. Rasa asin dari darah yang mengering mulai terasa di ujung lidahnya, namun ia tetap berdiri tegak.
Andi, dengan wajah yang ditekuk oleh kekhawatiran yang mendalam, menyodorkan botol air mineral yang isinya tinggal setengah. Air di dalamnya sudah hangat karena terpapar panas matahari sepanjang hari.
"Minum dulu, Shei. Tolong, jangan dipaksa lagi," bisik Andi, suaranya parau karena rasa iba. "Tenggorokanmu bisa luka permanen kalau terus kamu tekan seperti ini. Napasmu sudah pendek, Shei. Lihat, kaleng biskuit kita sudah hampir setengah penuh kok. Kita sudah sangat hebat hari ini. Lebih dari cukup."
Andi mencoba menenangkan ambisi sahabatnya yang nampak tidak masuk akal itu. Ia takut Sheila akan hancur sebelum sempat melihat Ibunya sembuh. Namun, Sheila menggeleng dengan kekuatan yang mengejutkan, sebuah penolakan yang lahir dari kedalaman tekad yang tak tergoyahkan. Matanya yang merah karena debu menatap matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat, warna merahnya nampak sangat pekat, seperti sebuah luka yang menganga di langit, seolah memberi peringatan bahwa waktu adalah musuh yang tak pernah tidur.
Sheila menunjuk jauh ke arah jalanan yang menuju rumah mereka dengan jari yang gemetar hebat. Ia memiliki firasat aneh, sebuah getaran di ulu hati yang memberitahunya bahwa waktu sedang mengejarnya dengan sabit tajam yang dingin. Ia merasa setiap detik yang terbuang untuk beristirahat adalah satu detik yang dicuri dari peluang hidup Ibunya. Ia tidak punya waktu untuk mengeluh. Semakin banyak uang yang terkumpul hari ini, semakin cepat Ibu Wulan mendapatkan obat yang layak, dan semakin cepat pula ia bisa menghentikan "napas pinjaman" yang menyiksa itu.
Sheila berdiri lagi, memaksakan kakinya yang bengkak untuk tetap kokoh. Ia membasahi bibirnya yang berdarah dengan sisa air hangat dari botol, menahan ringisan saat air itu menyentuh luka terbukanya, dan kembali bersiul. Kali ini suaranya keluar lebih keras, lebih menuntut, dan jauh lebih penuh perasaan... seolah-olah ia sedang meneriakkan semua doa yang tidak bisa ia ucapkan lewat kata-kata ke langit yang kian menggelap.