Malam di Karawang biasanya terasa melata, bergerak pelan di antara kepulan asap pabrik yang membumbung tinggi dan aroma tanah basah yang menguap dari parit-parit sawah. Namun malam ini, bagi Sheila, waktu seolah-olah berhenti berputar pada porosnya. Ia berlari kecil menyusuri jalanan setapak yang berkelok menuju gubuknya, mengabaikan kakinya yang lecet, bengkak, dan pegal luar biasa akibat seharian berdiri di atas beton keras stasiun dan aspal pasar yang membara. Di dalam dekapannya yang erat, kaleng biskuit karatan itu terasa sangat berat... sebuah berat yang membahagiakan, sebuah beban yang ia syukuri dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki.
Setiap denting koin yang beradu di dalam kaleng itu terdengar seperti simfoni kemenangan: detak jantung harapan yang baru bagi hidup Ibunya. Di sampingnya, Andi berlari dengan napas memburu, mendekap bungkusan roti hangat yang aromanya menguar di udara malam, beradu dengan bau keringat mereka yang mulai mengering dan debu jalanan yang menempel di pori-pori. Mereka tidak bicara, karena kata-kata selalu terasa terlalu sempit untuk menampung emosi sebesar ini. Namun, senyum yang mereka pertukarkan di bawah temaram rembulan adalah sebuah proklamasi tanpa suara: Ibu akan selamat. Besok, semuanya akan berakhir baik.
Sheila membayangkan wajah Ibu Wulan saat melihat tumpukan uang ini. Ia membayangkan binar di mata ibunya yang kuyu saat ia menunjukkan bahwa kesunyiannya telah membuahkan keselamatan. Ia ingin segera memeluk tubuh ringkih itu, membisikkan lewat getaran nadanya bahwa badai telah lewat. Langkah kakinya semakin cepat, menembus bayang-bayang pohon pisang yang melambai ditiup angin malam, membawa sepotong surga yang ia beli dengan napasnya sendiri.
Namun, binar kemenangan itu padam seketika, seolah disiram air es yang membekukan jiwa, saat mereka mencapai gerbang pagar bambu yang miring.
Sheila mendadak berhenti mati. Seluruh sendinya terasa kaku seolah-olah semen cor baru saja dialirkan ke dalam pembuluh darahnya, menggantikan aliran darah yang tadi mendidih oleh semangat juang. Di sana, terikat pada tiang pagar yang rapuh, selembar kain kuning kecil berkibar pelan tertiup angin malam yang dingin, sebuah tanda yang di pelosok Karawang lebih ditakuti daripada maut itu sendiri. Bendera kuning itu nampak seperti seringai takdir yang mengejek, sebuah tamparan keras yang menertawakan semua jerih payah, semua darah dari bibirnya yang pecah, dan semua penghinaan yang ia telan bulat-bulat di pasar dan stasiun.
Dunia seakan kehilangan warnanya. Hitam dan putih mendadak menguasai pandangan Sheila. Ia menatap kain itu dengan tatapan kosong, berharap itu hanyalah halusinasi akibat kelelahan luar biasa. Tapi kain itu nyata. Ia menari dengan kejam, mengumumkan kekalahan Sheila pada dunia sebelum ia sempat menginjakkan kaki di teras rumah.
Beberapa tetangga berdiri di teras rumah tua itu. Mereka tidak bicara, hanya tertunduk dengan wajah murung yang diselimuti bayang-bayang lampu minyak yang temaram. Suara jangkrik yang biasanya terdengar merdu sebagai pengantar tidur kini berubah menjadi musik pengiring duka yang sangat menyayat, seolah-olah alam semesta sedang meratapi ketidakadilan ini. Andi, yang berdiri di samping Sheila, menjatuhkan bungkusan rotinya begitu saja ke tanah. Roti hangat itu menggelinding di atas debu, terlupakan dan tak berarti lagi, sama seperti harapan mereka yang baru saja jatuh terjerembap ke titik nadir paling gelap.