Siulan Malaikat

ANTON SYAHRONI
Chapter #21

Jeritan Dalam Kesunyian

​Andi berlutut di belakang Sheila, bahunya berguncang hebat di bawah cahaya lampu minyak yang semakin meredup. Suara isak tangisnya pecah, menghancurkan sisa-sisa ketenangan di ruangan pengap itu dengan rasa bersalah yang teramat dalam dan menghujam. Air matanya jatuh membasahi lantai tanah yang dingin, menciptakan noktah-noktah hitam yang segera terserap debu.

​"Maafkan aku, Shei... Maafkan aku," ratap Andi di sela tangisnya yang tersedu-sedu, suaranya parau dan penuh penyesalan. "Harusnya tadi kita tidak mampir beli roti... harusnya kita tidak perlu peduli pada perut kita sendiri. Harusnya kita langsung pulang begitu kaleng itu berat. Mungkin... mungkin kalau kita lebih cepat sepuluh menit saja, Ibu masih bisa melihatmu membawa uang ini. Mungkin Ibu tidak akan pergi secepat ini."

​Andi menatap kaleng biskuit itu dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam. Uang yang mereka kumpulkan dengan darah yang mengering di bibir, peluh yang mengalir di sepanjang punggung, dan hinaan-hinaan kasar yang mereka telan di setiap sudut kota kini nampak seperti gundukan sampah yang sama sekali tidak berharga. Semua lembaran kumal yang berbau amis pasar dan keringat buruh itu tidak bisa membeli satu tarikan napas pun untuk Ibu Wulan. Uang itu, yang semula mereka anggap sebagai kunci surga, kini hanyalah tumpukan logam dingin dan kertas mati yang menjadi saksi bisu atas kekalahan telak mereka melawan sang waktu.

​Sheila menatap kosong ke arah jasad yang terbujur kaku, seolah jiwanya sedang melakukan perjalanan jauh ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun. Dengan gerakan yang sangat lambat, ia mengambil satu koin perak dari dalam kaleng. Koin itu berkilat pucat terkena cahaya lampu. Lalu, dengan tangan yang gemetar hebat, ia menyentuhkan koin dingin itu ke punggung tangan Ibunya yang sudah membeku, seputih porselen lama.

​Ia seolah ingin membuktikan pada raga yang telah sunyi itu bahwa ia tidak berbohong. Bahwa janji yang ia buat di bawah rindangnya kebun bambu telah ia tepati dengan segenap sisa nyawanya. Namun, saat permukaan logam dingin itu bersentuhan dengan kulit Ibunya yang sudah tidak lagi memiliki aliran darah, sebuah kesadaran yang sangat kejam menghantam batinnya hingga hancur berkeping-keping.

​Ibu benar-benar sudah pergi. Jembatan satu-satunya yang menghubungkan Sheila dengan dunia yang bising ini telah runtuh, meninggalkan jurang yang teramat dalam dan gelap.

Lihat selengkapnya