Pagi di pemakaman desa di pinggiran Karawang itu terasa begitu dingin, namun ini bukan jenis dingin yang menusuk dan penuh polusi seperti subuh yang mencekam di pasar induk. Ini adalah dingin yang tenang, jenis dingin yang menyelimuti makam-makam tua dengan kabut tipis yang merayap rendah dan embun jernih yang bergantung pasrah di ujung rumput ilalang. Sheila berdiri diam membatu di depan gundukan tanah yang masih basah, merah, dan beraroma tanah dalam yang baru saja digali. Matanya menatap nisan kayu sederhana yang dipahat terburu-buru, yang kini memuat nama wanita yang menjadi seluruh poros dunianya: Wulan.
Tidak ada siulan hari ini. Bibir Sheila terkunci rapat, seolah-olah diderum oleh duka yang tak kasat mata. Bukan karena ia tidak mampu lagi meniupkan udara, tetapi karena seluruh melodinya... jiwa dari setiap nada yang pernah ia ciptakan... seolah-olah telah ikut turun dan terkubur bersama peti mati Ibunya ke dalam kegelapan liang lahat. Angin yang berhembus hanya melewati bibirnya tanpa suara, meninggalkan kekosongan yang menyesakkan di dalam dadanya yang kian sempit. Ia merasa seperti sebuah seruling yang retak: bentuknya masih ada, namun napas kehidupan di dalamnya telah lenyap.
Di sampingnya, Andi berdiri setia dengan bahu yang merosot dan mata yang masih bengkak kemerahan. Di tangannya, ia masih mendekap kaleng biskuit karatan itu, sebuah benda yang kini terasa seperti monumen kegagalan sekaligus keberhasilan mereka yang paling ironis. Kaleng itu berat, namun beratnya tidak lagi memberikan rasa hangat, ia hanya pengingat akan waktu yang kalah dalam perlombaan melawan maut. Kepingan logam di dalamnya kini terdengar seperti suara rantai yang membelenggu batin mereka dengan rasa bersalah yang tak berujung.
Sheila tidak membawa bunga-bunga mahal yang biasa menghiasi makam orang kaya di kota. Ia hanya menancapkan sebuah kincir angin bambu kecil di atas pusara yang masih baru itu. Saat angin Karawang yang sejuk berhembus dari arah persawahan, kincir itu berputar dan berderit halus, menciptakan suara ritmis yang konsisten di tengah keheningan pemakaman. Suara derit bambu itu seolah-olah menjadi bisikan terakhir Ibunya yang melintasi dimensi, sebuah suara imajiner yang bergetar di telinga batin Sheila:
Terima kasih, Nak. Ibu sudah tidak sakit lagi. Sekarang, lepaskan bebanmu.
Beberapa hari kemudian, ketika rumah tua itu terasa lebih luas namun lebih sepi dari biasanya, sebuah ketukan pintu yang ragu-ragu membawa realitas baru ke hadapan mereka. Pintu kayu yang berderit itu terbuka, memperlihatkan sosok Reza.
Namun, Reza yang berdiri di sana bukan lagi konten kreator yang ambisius dengan sorot mata penuh kalkulasi angka dan engagement. Ia tidak lagi menggenggam ponselnya dengan sikap seorang pemburu berita. Ia datang dengan bahu yang sedikit membungkuk, wajahnya nampak layu oleh rasa haru dan hormat yang tulus. Ada penyesalan yang membayang di matanya, mungkin karena ia terlambat memberikan bantuan, atau mungkin karena ia baru menyadari betapa mahalnya harga sebuah video yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi di peron stasiun waktu itu.
Reza tidak banyak bicara. Ia tahu kata-kata tidak akan sanggup menambal lubang di hati Sheila. Ia hanya mengeluarkan sebuah tablet dan menyalakannya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menunjukkan layar itu kepada Sheila dan Andi. Di sana, video Sheila di stasiun (saat ia bersiul dengan segenap nyawanya di bawah tatapan pria berjas) telah ditonton jutaan kali. Angkanya terus berputar, melompat ribuan kali setiap menitnya, menciptakan gelombang digital yang tak terbendung.