Keegoisanku bukan tanpa alasan
Tapi firasat itu membuatku tak tenang
(Mega Kembar)
***
Mei 2010.
Di Sekolah Dasar dihebohkan dengan berita perpisahan kelas 6 yang rencananya setelah Ujian Nasional akan berlibur ke tempat wisata kolam renang di Paneglang. Disebabkan jumlah siswa yang kurang dari 30 orang, para guru mengajak murid lain dari kelas 1 sampai 5 termasuk kelasku juga.
Mereka ikut harus membayar biaya perjalanan dan makan sebesar 50 ribu rupiah. Di tahun 2010, nominal tersebut cukup besar.
Toh, nanti tingkat yang sama bisa berlibur juga dengan angkatannya sendiri. Namun, itu tidak berlaku untukku. Aku merasa tidak tenang, dan ingin ikut sesegera mungkin.
Firasatku selalu kuat ...
"Ngapain ikut sih, Dek?! Nanti aja bareng temen sekelas kamu," protes Teh Hanna.
"Nggak mau. Dede maunya sekarang bareng teteh," jawabku kekeuh.
"Ck! Nanti kalau dijahilin temen teteh gimana?! Mau nangis lagi kayak kemarin?"
Aku terdiam mengingat moment saat teman perempuan Teh Hanna membuatku menangis oleh tudingan dan cercaan mereka.
Akan tetapi, itu berasal dari kesalahanku. Aku telah berbuat nakal dengan mengikuti arahan Dirga dan Alfi untuk meneriaki kakak senior dengan sebutan 'Mbek' saat naik mobil pick up.
"Nggak bakalan, kan dede udah minta maaf," cetusku.
"Iya, tahu. Tapikan ada temen cowok teteh, nanti dede digangguin sama mereka."
"Kan ada teteh yang jagain."
Akhirnya, Teh Hanna mengizinkan ikut, bahkan aku dipinjami uang 50 ribu rupiah dari hasil tabungannya di sekolah, yang hanya berjumlah 300 ribu.
“Awas, loh. Nanti pas dede dibagiin tabungan juga ganti ya uang teteh,” peringatnya.
“Iya, tenang aja. Kan uang tabungan dede sekarang udah hampir 600 ribu pasti kebayar, kok,” jawabku santai.
Menjelang liburan tersebut, Mama mengajakku pergi membeli sendal baru di tempat orang tua Rio. Aku memilih sendal slop merah yang nantinya akan sangat kusesali.
Saking antusiasnya aku menyambut hari esok, aku tidak bisa tidur. Selepas pulang mengaji, aku langsung menyiapkan perbekalan seperti baju ganti, sisir, peralatan mandi dan lainnya.
“Udah tidur dulu, Dek. Nantikan harus bangun subuh. Kalau susah bangun bakal teteh tinggalin,” ancam Teh Hanna yang terganggu dengan kebisinganku.
Aku pun terlelap, lalu dibangunkan Mama saat subuh. Untuk jalan-jalan kali ini, aku dan Teh Hanna melepaskan jilbab yang biasa dipakai ke sekolah karena nanti akan ikut berenang. Kami pun dijemput mobil angkutan umum yang sudah disewa.
Di Kampung Seberang, kami harus berhenti untuk mengecek beberapa hal. Aku yang tengah melihat keluar jendela dikejutkan dengan sapaan seorang siswa, Kak Satria.
“Widih, siapa ini?! Perasaan di kelas kita nggak ada modelan kayak gini, deh?!" katanya sambil mengamati wajahku.
“Itu Mega, adiknya si Hanna. Dia-kan ikut juga," jawab Kak Arifin57.
"Oh. Di liat-liat cakep, ya?! Imut gitu."
Kak Satria tertawa renyah, sedangkan Kak Arifin terlihat canggung, dia melirikku sekilas dengan senyum kecil.
"Nggak usah nyari perkara. Bapaknya galak, loh."
"Ya, kan ngajak temenan doang." Kak Satria menatapku meminta persetujuan. "Iya nggak, Dek?!"
“Udah! Jangan ganggu,” sela Teh Hanna terdengar judes. “Diem aja, Dek. Jangan diladenin, kalau ngajak ngobrol nggak usah dibales.”
"Galak banget si Hanna."
"Nggak peduli."
"Dede sama teteh aja sini!" Teh Hanna menarik pundakku lebih dekat padanya, agar tidak lagi bertengger di sisi jendela.
“Lho, udah gede kok masih dipanggil dede?!” komentar Kak Satria yang membuatku sedih.
Memang apa yang salah dengan panggilan tersebut?!
Aku suka, kok. Aku pikir itu tanda sayang mereka padaku. Kendati demikian, aku tetap diam karena takut mengacaukan suasana, toh aku yang paling muda di sana.
Sepanjang perjalanan aku menikmati pemandangan di balik jendela bus, rasanya sangat damai. Sedangkan Teh Hanna tertidur lelap menyandar di bahuku.
Hanya butuh waktu sejam lebih untuk sampai di tujuan. Kami lalu terbagi menjadi dua kubu, yakni kelompok perempuan dan laki-laki.
Setelah puas mengamati hewan buaya, kancil, burung dan ular yang membuatku terkejut, kami pun diarahkan ke ruang ganti pakaian untuk memulai aktivitas renang.
Aku turun ke kolam renang bersama Teh Hanna. Sesekali secara bergantian kami akan menikmati wahana seluncuran.
Setelahnya kami makan siang dulu, dan berganti pakaian. Sekali lagi kami terpecah untuk menikmati wahana permainan.