Berapa lagi rasa sakit yang harus kuterima
Apakah sefatal itu kesalahanku
(Mega Kembar)
***
September - Oktober 2011.
Saat aku terbebas dari perawatan rumah sakit, Nenek Mima mendadak sakit keras dan dibawa ke UGD. Itu terjadi menjelang pernikahan Mang Aiman, si Bungsu dari Keluarga Besar Mama.
Disebabkan Mama fokus mengurus Nenek Mima, aku pun jarang diperhatikan olehnya. Tapi itu tidak masalah karena aku sudah sembuh, hanya saja masalah muncul di sekolah saat teman-temanku mulai menjauh.
Mereka terlihat takut dan segan saat berdekatan denganku. Padahal biasanya tidak ada jarak di antara kami, tapi sekarang berubah sikap. Aku mencoba memakluminya karena mungkin mereka takut menyenggol atau menyakiti luka bekas operasiku.
Meski sudah kutekankan bahwa selain luka di punggung itu tidak ada yang sakit, tapi mereka tak percaya.
Aku kesepian ...
Hariku di sekolah banyak dihabiskan di ruang perpustakaan. Hampir setiap hari aku meminjam buku di sana. Bacaan favoritku adalah buku Kisah Nabi dan Rasul serta buku cerita horor.
Di titik inilah aku mulai menyukai dunia literasi, bahkan di rumah pun aku mulai membaca cerpen dan cerbung64 karangan Teh Hanna. Di sisi lain, melihat potensiku, Aa Banyu memutuskan memasukan aku ke dalam kelas Kursus Komputer.
Memang setelah pindah ke rumah baru, aku belum melanjutkan pendidikan di Sekolah Agama lagi, karena kelompok pertemananku di Kampung telah bubar66.
Jika dari segi sosial aku mengalami kemunduran, tapi dalam segi ekonomi sangatlah cemerlang. Di moment ini, Bapak mendapatkan rezeki lebih untuk membeli seperangkat leptop beserta printernya, Aa Banyu sendiri membeli motor baru.
Tapi di sekolah, aku selalu bermain sendirian. Saking kesepiannya di waktu ini, aku pernah dengan sengaja menjahili teman sekelasku. Aku mengirimkan SMS iseng agar mereka mau kembali bermain denganku.
Akan tetapi, respon yang kuterima tidak sesuai harapan. Jika dalam dunia digital, kami terlihat akrab tapi saat di sekolah mereka kembali bersikap canggung.
Perilaku mereka membuatku jatuh dalam kebingungan. Sungguh, apakah pasien sepertiku sangat menakutkan?!
Kenapa terus menjauh?!
Aku yang tengah duduk di lantai teras kelas 6 pun hanya bisa memainkan jari-jemari tanganku dalam kejenuhan. Aku ingin teman bicara. Lantas, saat dalam lamunan tiba-tiba ...
Puk!
“Ngapain kamu, Meg? Lagi cosplay jadi pengemis?”
Aku menoleh ke asal suara tengil itu untuk mendapati Undio tertawa lepas, dari manik matanya terlihat geli.
"Ini aku kasih uang," godanya menyodorkan dedaunan yang dipetik dari tanaman hias.
“Enak aja. Kamu kali gabut banget merhatin orang sembarangan," tegurku cemberut. Padahal dalam hati aku sangat senang karena temanku mau menyapa.
"Lagian kamu ngapain di sini sendirian?! Nggak jajan ke warung?" Undio berdiri menyandar pada tiang dengan tatapan mata tertuju ke arahku.
"Ini aku juga lagi nungguin Melisah, kok. Dia lagi ngambil jajanan ke warung Aa Banyu."
“Oh gitu. Butuh ditemenin, nggak?" tawarnya.
"Temenin kemana? Orang aku nggak mau kemana-mana."
"Maksudnya temenin ngobrol gitu. Daripada kamu sendirian gini kayak jelangkung."
"Ih. Apa, sih?!" rajukku. "Orang aku lagi main."
"Main apa?"
"Mainin jari."
"Ngaco. Aku temenin ngobrol aja, deh. Sama kayak kamu yang nemenin aku sms-an. Itu kamu-kan yang ngerjain aku Minggu lalu?!"
Sontak pipiku terasa panas oleh tudingan tersebut. Aku malu sekali oleh kelakuan isengku yang mengerjai teman-temanku demi sebuah perhatian kecil.
"Iya, maaf. Kan aku juga udah ngaku kemarin."
Senyum menggoda itu kembali terpoles diwajahnya saat berkata, "Pake acara tebak-tebakan segala, padahal tinggal bilang ini Mega gitu. Aku pasti kenal."
"Iya ih. Udah jangan dibahas."