Di saat Mama membutuhkanku
Kenapa aku tidak bisa menolongnya?
(Mega Kembar)
***
Keesokan harinya, setelah Mama dan Bapak serta Tika kembali ke ruang rawat inapku, Aa Banyu dan Teh Hanna pamit pulang.
Mama pun mulai mengurus berkas perawatan. Sore hari, Mama mulai diinfus sama sepertiku. Aku hanya bisa menatap Mama yang terbaring di ranjang pesakitan sebelahku.
Kenapa takdir seakan mempermainkan kami?!
Mama dijadwalkan operasi pada hari Selasa di siang hari. Bapak yang tak mau menunggu sendirian di ruang operasi meminta izin pulang ke rumah untuk meminta bantuan kerabat lain.
Bapak pun datang bersama tetangga warung Aa Banyu, sebut saja dia Nde Ruslan.
Ketika keduanya sedang mengopi di luar teras ruanganku, tiba-tiba saja perawat mengabarkan jika Mama akan segera menjalani tindakan Operasi.
Ranjang pesakitan Mama pun didorong keluar, sehingga aku hanya bisa meminta bantuan pada Tika yang masih berusia 4,5 tahun untuk mengabari Bapak.
Tika pun berlari cepat ke tempat Bapak, karena tumbuh besar di rumah sakit, adikku itu jadi hapal kawasan tersebut. Tiba di depan Bapak, dengan suara cadelnya Tika pun mengabarkan berita tersebut.
“Bapak! Mama dibawa kecana.”
Mendengarnya Bapak dan Nde Ruslan bergegas menyusul ke ruang operasi setelah mengambil selimut ke ruanganku. Bapak pun menitipkan sebuah pesan.
“Doain Mama ya, Dek. Supaya operasinya berjalan lancar.”
Aku hanya bisa mengangguk. Setelah kepergian Bapak, aku menangis seorang diri di dalam ruangan.
Aku merasa sesak sekali ...
Operasi pun selesai menjelang Magrib. Aku melihat Mama didorong kembali ke ruanganku dengan posisi masih tertidur lemas. Di belakang telinga kirinya tertempel perban besar yang disekelilingnya diplester bening.
Saat subuh, Bapak pamit untuk mengantarkan pulang Nde Ruslan, yang membuat ruangan kami tidak ada keluarga yang menjaganya. Kemana perginya semua orang saat dibutuhkan?
Tidak berselang lama, Mama muntah-muntah di kamar mandi efek dosis obat bius, Mama mengatakan ingin meminum teh manis, tetapi aku tak bisa membuatkannya karena kebetulan luka di kakiku tidak diperban dan hanya menggunakan plester yang rentan terbuka.
Sungguh! Aku merasa tidak berguna. Tapi jika memaksakan diri pun hanya ada kesusahan nantinya. Beruntung setelah merasa lebih baik, Mama bisa menyeduh teh manis sendiri.
Setelah jam besuk pertama tiba, kami kedatangan Teh Andin yang menjenguk, tetapi Mama menolak kehadirannya dengan mengatakan kalimat pedas.
“Teh Mais butuh saudara itu kemarin waktu di Ruang operasi, bukannya udah kayak gini baru datang. Kalau sekarang percuma, buat apa ke sini juga udah nggak dibutuhin.”
Saking kesalnya, Mama sampai tidur membelakangi Teh Andin, dia tidak lagi berbicara apapun, sehingga membuatku merasa serba salah sendiri.
Beruntung setelahnya Teh Andin pamit pulang, dia bahkan memberikan uang saku 20 ribu padaku. Lalu, datang Bapak dan Tika. Namun, kejadian mengesalkan tidak berhenti di sana.
Ketika Bapak berada di kamar mandi, rombongan Kepala Desa ke ruanganku. Aku pikir mereka akan menjengukku, ternyata menanyakan pasien lain dari Kampung Seberang.
Dengan setengah hati, aku menunjuk ruangan kelas 3. Sungguh, pencitraan yang menjijikan, padahal aku pun dari desa yang sama, tetapi dilewati.
Aku pun memilih fokus pada pengobatanku dan Mama. Karena operasi Mama termasuk dalam jenis kecil, di hari kelima sudah dibolehkan pulang, justru akulah yang harus menetap lebih lama lagi, karena infeksi di kaki kiriku mulai mengenai tulang.
***
Maret-Mei 2012.
Seperti biasa setelah operasi, aku harus melakukan rawat jalan sampai jahitan di buka. Namun, kali ini memiliki kendala yang membuat luka di tumitku selalu terbuka dengan adanya tonjolan benda putih mirip tulang.