Dalam gelapnya malam
Ada ketakutan yang membuatku tak nyaman
(Mega Kembar)
***
Seperti yang sudah dijadwalkan sebelumnya, aku kembali melakukan serangkaian tes kesehatan untuk menjalani Operasi Ketujuh.
Pemasangan ketujuh pen besi akan dilakukan dengan tujuan memperbaiki kerusakan tulang yang hancur atau mengeropos oleh infeksi. Untuk pertama kalinya, aku pun ditempatkan di Ruang Anggrek.
Itu semua terjadi karena ruang inap yang biasa aku tempati telah terisi penuh. Aku pun dirawat di ruangan yang di bagian depannya terdapat pohon beringin.
Anehnya sendari awal berbaring di ranjang pesakitan tersebut, aku merasakan firasat tak nyaman. Aku merasa diawasi oleh sesuatu tak kasat mata.
Tapi berusaha menepis perasaan negative tersebut dengan bersikap baik-baik saja. Aku bahkan sempat mengecek ruang kamar mandi dan teras belakang tempat menjemur pakaian.
Sore harinya, setelah mengabari Bapak via telepon, aku memutuskan mandi, lalu datang perawat yang akan menginfus tanganku. Semua aman terkendali sampai menjelang magrib, perasaan tak tenang itu membuatku berkeringat dingin.
Aku menoleh ke pohon beringin yang selalu menyita atensiku. Tidak ada hal aneh di sana, tapi pandangan ini seakan terpaku.
Masuk waktu isya, Bapak menghubungi bertanya ingin dibawakan apa, tapi pikiranku tidak fokus, bahkan aku kesulitan saat menekan tombol terima panggilan.
Aku pun tidak mengatakan apa-apa. Bibirku terkunci oleh ketakutan yang tak bisa terjabarkan. Tapi samar terdengar suara panik Mama meminta Bapak cepat datang, kemudian menyelimutiku dengan kain jarik yang dibawa dari rumah.
Anehnya itu tercium anyir darah dan bau bangkai, aku pun membuangnya. “Jangan diselimutin, Mah. Bau banget. Ganti selimut lain, dong,” pintaku.
Tapi Mama tetap menyelimutiku dengan kain yang sama sambil bergumam, “Diem, Dek. Yang tenang. Jangan melamun!”
Tidak berselang lama, Bapak datang membawa makanan dalam bungkus pelastik hitam. Bapak melempar senyum padaku, tapi aku membuang muka dengan memilih tidur membelakangi.
Entah kenapa aku benci melihatnya ...
Fenomena aneh ketika aku merasa itu bukan diriku. Tapi kenyataan aku melihat dan merekam setiap adegan dengan jelas. Setelahnya mungkin aku tertidur, dan suasana di sekitar pun mendadak hening.
Aku membuka mata untuk melihat ke arah luar yang menampilkan dahan pohon rindang. Aku ingin pergi ke sana. Tapi pergerakanku terhenti oleh tepukan di bahuku.
“Tenang, Dek. Diem! Bobo aja udah malem.”
Aku berbalik ke arah datangnya suara tersebut. Aku mengenali sosok yang duduk di kursi penunggu pasien itu adalah Mama. Tapi dalam bayanganku tindakan tersebut salah.
Bagaimana tidak?!
Aku terjebak dalam delusi komik horror yang dibaca saat Sekolah Dasar. Di sana menceritakan sekelompok orang yang terjebak di Café Setan untuk dijadikan tumbal berdarah.
Kedua mataku menciptakan ilusi suasana yang mengerikan dan mencengkam. Sekelilingku berubah warna menjadi hijau. Lampu Ruang Anggrek yang seharusnya berwarna putih terang menjadi hijau muda.
Pendengaranku pun ikut memanipulasi dengan menciptakan suara derit benda tajam serta bising dari pembicaran mengenai topik pembunuhan berantai. Aku bergetar ketakutan memohon dibawa pergi pada Mama.
“Dede pengen keluar, Mah. Ayo, kita keluar.”
Tapi ajakanku justru dibalas pelototan tajam oleh Mama. Apa yang salah?!
Aku melirik ke arah bibir Mama yang menggumamkan sesuatu yang tidak aku mengerti. Aku pun menoleh ke arah infusan dan mencoba mencabutnya.
“Lepasin ini! Ngapain pake kayak gini?” seruku marah.
Tapi pergerakan yang akan membuka plester itu dihentikan juga oleh Mama yang menegur kasar. “Jangan dicabut, Dek. Kamu mau ngapain?”
“Dede mau keluar, Mah. Nggak mau di sini.”