Sketch Within Words

Misaka Takashi
Chapter #2

Empat Sekawan

Masa orientasi sekolah atau mungkin bahasa kerennya saat ini PLS (Pengenalan Lingkungan Sekolah) telah berakhir. Sepanjang kegiatan tersebut, Elaina lebih akrab dengan Teman sebangku, Ali.

Ali, dia seorang pengarang yang telah bangkit dari keterpurukan impiannya. Berambut sedikit berantakan, pakaiannya juga cukup rapih di sekolah. Mereka berdua sering kali berbicara.

Kembali ke awal. Berakhirnya masa orientasi, mereka terpisah. Elaina berada di kelas 1-2. Ali di 1-8. Ini juga membuat keduanya jarang bertemu. Meski sedikit kecewa saat melihat papan pengumuman pembagian kelas.

Elaina menghelakan napas dengan lesu. Dia memasuki kelas barunya. Kelas itu sama seperti kelas pada umumnya. Lima belas bangku berjajar. Bangku itu terbuat dari kayu. Tidak terpisah, menyatu seperti sekolah negeri. Kipas angin terpasang dua di langit-langit, sedikit kotor, mungkin baru saja dibersihkan. Papan tulis masih terdapat coretan-coretan tulisan, yang kemungkinan juga kakak kelas yang telah melakukan.

Pagi yang baru ini, kelas masih terasa sunyi. Hanya ada kurang lebih lima siswa sudah duduk. Saling terdiam, belum mengenal satu sama lain. Wajar saja selama masa orientasi, mereka belum tentu bertemu.

Elaina mengambil bangku paling depan. Dia bisa berkenalan atau tidak, kelihatannya itu tidak penting. Pagi yang seharusnya cerah, kini murung abu-abu kembali melanda. Pertama, dia terpisah dengan Ali. Kedua, meski tidak memiliki perasaan suka padanya, Ali menjadi sahabat pertamanya. Memiliki latar belakang yang sama-sama gagal dalam kompetisi meski berbeda passion. Elaina mengepalkan tangan erat. Bagaimana cara membangkitkan semangat yang telah kandas itu?

“Eh jadi ini kelasnya?” seorang gadis berambut hitam dikucir seperti ekor kuda melirik. Dia tengah mencari seseorang.

Elaina menoleh pada gadis yang tengah berdiri di depan itu. Seperti tidak asing. Dia mengenal gadis itu.

Gadis itu juga menoleh menatap pada Elaina. Dia menyunggingkan bibir pada Elaina, senyuman yang aneh. Meski mereka juga berada di kelompok yang sama semasa orientasi. Dengan riang, gadis itu menapakan kaki, memasuki kelas. Mengambil tempat duduk di samping Elaina.

“Akhirnya aku ada teman juga ya, El.”

Elaina mengangguk saja. Gadis itu bernama Metha.

“Oh ya, teman sebangkumu dulu tidak di kelas ini? Padahal kalian begitu akrab.”

“Kurasa tidak, Met. Meski kami sudah akrab, namun semua tidak seperti apa yang kamu pikirkan.”

Metha mengangguk paham. “Jadi, sebatas teman?”

“Hanya teman.”

“Tapi, bagaimana kalau kamu terpincut?”

Elaina menoleh ke teman sebangkunya, wajahnya berubah menjadi merah.

“Kan bisa saja, tidak ada yang tahu.” Metha masih saja melanjutkan pembahasan yang cukup memalukan itu.

Selama kegiatan orientasi, memang Elaina dan Ali sering dianggap seperti orang berpacaran ketimbang berteman. Pembahasan mereka juga sering nyambung. Walau yang dibahas hanya seputar passion mereka. Yang kadang tidak dimengerti oleh orang lain.

***

Lihat selengkapnya