Sketch Within Words

Misaka Takashi
Chapter #3

Klub Bahasa Jepang

Tiga kakak kelas berkenalan di depan kelas. Dua cowok dan satu cewek. Cowok pertama yang merupakan ketua klub Bahasa Jepang. Dia Farzan. Berambut ikal. Sedikit lebih tinggi dari Ali dan teman laki-laki yang kedua.

Laki-laki yang kedua. Dia Afif. Bisa dibilang dia adalah wakil ketua klub. Saat perkenalan dia terkesan humoris di depan para adik kelas. Berambut pendek rapih.

Dan yang terakhir, kakak kelas perempuan. Tania. Dia merupakan seorang bendahara kelas yang bisa cukup serius. Berambut pendek, hitam. Fakta menariknya dia berpacaran dengan Farzan. Kisahnya juga sedikit unik. Hanya saja bagian itu yang dilewati olehnya. Mungkin kalau ingin tahu, bisa bertanya secara langsung padanya.

“Kalau begitu, tinggal kalian yang mulai berkenalan,” ujar Farzan.

Mereka berempat saling menoleh satu sama lain. Mereka sudah saling mengenal saat ketika memasuki masa orientasi. Jadi buat apa saling berkenalan.

“Jadi, kalian malu-malu atau bagaimana?” tanya Farzan.

Metha, lebih dahulu berdiri, berkenalan namanya. Lalu dilanjut oleh Rizal, Elaina dan terakhir Ali.

“Hanya empat?” tanya Tania. “Tidak masalah, selama klub ini ada anggotanya semua baik-baik saja.”

“Baiklah kalau begitu, kalian boleh pulang.” Farzan mengatakan dengan lega.

Hanya begitu saja? Metha membatin. Ini lebih parah dan tidak sesuai ekspetasinya. Memang mau melakukan apa lagi? Dia menghela lesu.

“Tapi,” Farzan melanjutkan lagi. “Jika kalian ingin berbicara dengan kami. Kalian boleh mampir sejenak. Anggap saja kita keluarga. Bawalah dengan santai.”

Kelas 1-9 lengang. Mungkin masih canggung dengan kakak kelas. Mengingat mereka juga yang membentak ketika masa orientasi. Memang tidak ada yang perlu dibicarakan untuk saat ini.

Elaina berdiri dari tempat duduk. Dia berpindah duduk di belakang Ali.

“Hei, Ali, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Elaina. “Bukankah kamu seharusnya bergabung dengan klub menulis?”

“Mungkin alasanku sama dengan Rizal.”

Aku tidak tahu alasannya, batin Elaina, dia ingin sekali menghajar Ali yang telah menjawab itu. Klub bahasa Jepang. Ya itu satu-satunya rumah di sekolah untuk saat ini bagi Elaina. Tidak ada klub desain, jadi terpaksa dia bergabung dengan klub Bahasa Jepang. Alasannya cukup sederhana, gambaran yang selama ini dia buat adalah gambar anime. Berbeda seperti SMP yang masih ada klub Mangaka, tapi di SMA hal itu tidak ada.

Ruangan lengang, tiba-tiba bel kereta berbunyi, ketika melintas. Wajar saja SMA itu dekat dengan rel kereta yang selalu memeriahkan suasana ketika lengang. Dan juga suara motor yang terus menggerung. Karena kelas 1-9 dan juga 1-8 dekat dengan tempat parkir sepeda.

Farzan mulai menepuk tangan sekali. “Kalau begitu, ayo kita melingkar.”

Bangku depan mulai disisihkan sedikit lebih luas. Kakak kelas dan siswa baru pun mulai membentuk lingkaran.

“Mungkin kalian, sudah saling mengenal satu sama lain. Jadi, kemungkinan klub ini akan bertahan sangat lama,” ujar Farzan. “Kalau boleh tahu, hobi kalian apa?”

Lihat selengkapnya