Sketch Within Words

Misaka Takashi
Chapter #4

Ragu Untuk Memulai

Senja telah berganti malam. Bintang-bintang bertaburan. Bulan bersinar cukup terang, bulat sempurna.

Elaina merebahkan diri di atas kasur kamarnya. Terdapat meja, kursi, laptop, dan alat desain—pentab. Sudah tiga bulan mungkin, dia tidak menyentuh pentab itu. Dia tidak memiliki semangat lagi. Dinding kamarnya berwarna putih, bersih. Tidak ada satu pun coretan. Lemari berada di pojok ruangan, berupa lemari kayu dengan cermin. Di lantai sebelah lemari, terdapat setumpukan kertas yang perlahan kian meninggi. Itu hasil gambaran yang pernah dibuat Elaina. Mungkin dari saat dia sekolah dasar.

Elaina hanya merebahkan diri, memandang langit-langit. Sesekali dia melirik ke arah pentab. Pentab itu merupakan pemberian hadiah ulang tahunnya. Itu terjadi ketika dia masih kelas satu SMP. Dia pun mengubah posisi dari merebah menjadi duduk. Menyilakan kaki di atas kasur. Tatapannya pun masih mengarah pada pentab itu.

Mungkin bisa kucoba. Elaina menurunkan kedua kaki, menyentuh lantai. Dia melangkah, menarik kursi, duduk di depan meja belajar yang terdapat laptop dan juga pentab. Dia menyalakan laptop, memasang colokan pentab ke laptop. Ketika laptop sudah menyala semua, dia membuka software Paint Tool SAI. Ketika hendak menggambar garis. Tangannya terhenti tiba-tiba. Seluruh ingatan yang menghantuinya kembali muncul. Dia meletakkan pen sejenak.

Kenapa masih terbayang? Elaina menyandar di kursi. Kini dia juga meletakkan tab-nya sembarang. Tidak bisa. Masih sulit untuk melakukannya. Alhasil apa yang ada di hadapannya masih kosong. Tidak ada coretan apa pun kecuali titik.

***

Kamar Ali lengang hanya terdengar tuts papan ketik diketik dengan cepat. Tulisan yang berada di depan layar kini sudah ribuan kata menghiasi. Sesekali dia berhenti, merehatkan sejenak tubuhnya. Sesekali dia melihat jam di dinding. Masih pukul delapan malam.

Masih lama. Ali kini melanjutkan ketikannya. Dia tengah berencana membuat novel. Walau sebenarnya sudah berapa kali ditolak oleh penerbit. Tumpukan kertas di atas lemari buku kian meninggi. Itu merupakan hasil tulisan yang sudah dia buat, berakhir penolakan. Sebenarnya ada dua cara. Merombak ulang atau membuat baru. Hanya saja, Ali memilih untuk membuat yang baru, ketimbang merombak ulang. Walau dia ingin sekali merombak.

Tidak hanya tumpukan kertas itu saja. Dalam laptopnya juga terdapat puluhan cerita yang sudah dia buat. Untuk kompetisi khususnya. Dia selalu menang. Hanya saja kegagalan saat di akhir tahun SMP itu membuatnya sedikit syok, tidak ingin menulis lagi. Namun, itu baru sekali, baginya. Bagaimana pun juga, dia mulai bangkit lagi. Menghajar seluruh ide dan konsep yang sudah tertanam di kepala.

Dan dia ingat, kalau sebenarnya dia mengikuti berbagai kompetisi itu hanyalah untuk menguji coba kemampuannya. Selain itu, tujuan utamanya, dia ingin naskah yang dia tulis diterima di penerbit.

***

Pagi, di kelas yang sepi. Ali menguap lebar. Dia semalam menulis hingga larut. Meski begitu, dia berusaha menahan kantuk itu, walau dia ingin sejenak memejamkan mata. Ditambah, pagi tadi, Ibu-nya mengomel. Hal itu membuat Ali jadi tidak mengantuk lagi.

Rizal menapakkan kaki, memasuki kelas. Dia kebingungan melihat Ali yang tidak biasa. Terkantuk-kantuk.

Jangan bilang, kamu bergadang lagi. Rizal meletakkan tas ransel di samping bangku. Lalu, menepuk pundak Ali.

“Hei, bangun, kamu pikir ini tempat tidur?”

Ali membuka mata dengan terkejut, dia memandang Rizal. “Selamat pagi, Zal.” Dia kembali menguap.

“Kamu tidur jam berapa?” tanya Rizal.

“Mungkin jam dua pagi. Kalau tidak salah liat.” Ali mengingat-ingat.

“Itu lebih parah dari yang kubayangkan.” Rizal menghela napas. “Aku tahu kamu memang tergila-gila dengan hobimu, tapi kamu harus memastikan tidurmu.”

Lihat selengkapnya