Sebulan berada di SMA Surabaya. Semua jadi terbiasa dengan sendirinya. Tugas-tugas yang menumpuk. Sifat guru pun juga mulai dikenal meski pada awalnya sangat menjengkelkan. Sebulan semejak Elaina masuk, dia tetap saja tidak menggambar. Ketakutan akan kekalahan masih terus-menerus membekas. Ingin rasanya dia tidak kembali. Namun, mau bagaimana lagi? Itulah keinginannya sewaktu kecil.
Hujan rintik-rintik di luar. Walau seluruh lapangan telah ditutup oleh kanebo, tetapi tetesan-tetesan air dan juga suara air yang menghantam kanebo terdengar. Kipas angin dalam ruang kelas 1-2 berputar, perlahan. Hawa dingin menusuk. Angin sepoi-sepoi masuk melalui lubang jendela.
Pelajaran sosiologi tengah berlangsung. Seluruh siswa terdiam, memerhatikan guru sosiologi. Seorang pria dengan rambut rapih. Tatapan wajah cukup tegas. Dia, Pak Budi, guru sosiologi yang terkenal garang. Mengenakan pakaian dinas berwarna coklat muda.
“Kalau kita berbicara nilai dan moral. Dua hal ini sangat berkaitan. Kita bedah dulu mengenai nilai. Nilai juga memiliki sifat yang relatif dan tidak mutlak.” Pak Budi menjelaskan, sembari membaca buku. Sesekali dia berdiri. “Nilai itu memiliki ciri yang di mana ciri-ciri tersebut adalah pertama nilai tercipta secara sosial dan bukan merupakan bawaan dari lahir. Dari sini kita tahu bahwasanya nilai yang ada itu tidak lahir begitu saja. Hal ini ada karena ada faktor sosial. Mungkin kita bisa memberi contoh yang ada dalam keluarga. Semisal keluarga kita selalu mengajarkan bahwasanya pendidikan merupakan nilai kesuksesan. Seperti ini nilai yang ada dalam keluarga. Jadi, nilai ini ada karena ditanamkan oleh orangtua. Mungkin tidak orangtua saja. Nilai juga bisa ditanamkan karena sebelumnya yang saya jelaskan, faktor lingkungan.
“Kedua ada nilai memberikan pengaruh yang berbeda antara individu dan masyarakat. Mungkin ini seperti ini. Apa yang kita lakukan belum tentu dipandang baik oleh orang lain. Meski hal itu benar di mata kita. Ketiga nilai berlangsung terus menerus melalui interaksi, kontak sosial, dan akulturasi. Yang ketiga ini, sebuah nilai bisa saja berubah. Karena kita ketika hidup di masyarakat baru, nilai-nilai itu akan berubah dengan sendirinya karena interaksi yang ada dalam masyarakat tersebut, mungkin kasarannya bisa dibilang seperti adaptasi. Dan yang keempat nilai melibatkan emosi dan perasaan—”
Tidak lama bel pun berbunyi.
“Baiklah sudah waktunya saya mengakhiri pelajaran, dan selamat sore.” Pak Budi meninggalkan ruangan dengan membawa buku paket pelajaran Sosiologi. Namun, dia sempat berhenti di depan bangku Elaina, menatapnya lamat-lamat. Elaina sendiri juga gemetar.
“Elaina,” panggil Pak Budi. “Saya tahu pada saat minggu kedua setelah masuk sekolah, kamu dikeluarkan. Namun, setelahnya kamu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Pertahankan itu.” Pak Budi melanjutkan jalannya.
Elaina pun bernapas lega. Akhirnya, dia pikir dia akan diuji lagi.
“Tapi, kamu memang hebat, El. Kamu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu tanpa salah sedikit pun. Aku iri.” Metha memajukan bibir, iri dengan Elaina. Padahal teman sebangkunya ini cukup pintar, tapi kenapa tidak menular pada dirinya?
Tak lama terdengar pengumuman dari speaker yang terpasang di atas papan tulis. Seluruh siswa kelas 1 silahkan menuju aula. Ada beberapa pengumuman penting yang ingin disampaikan oleh kepala sekolah. Paling-paling juga masalah spp atau mungkin penjurusan IPS atau IPA. Elaina tidak terlalu memikirkan itu. Penjurusan baru terjadi ketika mereka menginjak kelas dua SMA.