Perdebatan pendapat masih berlanjut. Kali ini makin memanas antara menjual makanan atau menjual lainnya. Tidak mungkin juga menjual hal yang aneh-aneh seperti membuat digital art dengan harga komisi yang terjangkau. Pembahasan itu menemui jalan buntu. Ali sejak tadi, juga bingung ingin melakukan apa saat festival budaya nanti. Benar-benar parah.
Ketika menemui jalan buntu itu. Farzan memilih untuk mengakhiri sementara. Memang ini sedikit susah. Semua kakak kelas lekas pergi terlebih dahulu, meninggalkan mereka berempat.
Metha dan Rizal pun juga pulang terlebih dahulu.
“Kamu tidak pulang?” tanya Metha.
Elaina menggeleng. “Aku ada urusan sebentar di sini.”
“Baiklah.” Metha meninggalkan Elaina yang duduk di depan kelas.
Ali masih berada di dalam kelas. Dia tengah merapihkan bangku-bangku yang ada. Mematikan lampu kelas dan kipas angin. Setelahnya, dia keluar dari kelas, menutupnya rapat.
“Jadi, kenapa kamu ingin mengajakku ke toko buku?” Elaina berdiri dari tempat duduknya.
“Diamlah, dan ikuti aku. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu.”
***
Perjalanan menuju toko buku, menggunakan angkutan umum. Elaina memandang ke luar. Jalanan dipenuhi oleh kendaraan bermotor, berjalan dengan pelan di bawah langit senja. Sesekali klakson mobil bersahutan dengan sepeda. Angkutan umum—bemo ini berjalan dengan pelan berada di sisi kiri jalan, sekalian mencari penumpang. Bemo yang mereka naiki lengang, hanya dua siswa, Elaina dan Ali. Mereka juga tidak berbincang seperti biasanya. Diam. Lengang menyelimuti dalam bemo tersebut.
“Ali.” Elaina memanggil namanya, memecah keheningan yang menyelimuti. “Kenapa tidak ajak Rizal saja untuk pergi toko buku?”