Bemo berhenti di pinggir jalan. Mereka tiba di toko buku. Terletak di tengah kota tepat berada di depan Samsat Surabaya. Cukup besar dan sudah menjadi langganan Ali kemari. Mereka pun melangkah, menaiki tangga, memasuki toko buku. Elaina kagum ketika memasuki toko buku. Tepat mereka pada lantai satu. Menjual berbagai aksesoris olahraga, mainan, bahkan cat kertas. Sudah lama semenjak Elaina terakhir ke sini. Kira-kira berapa lama ya?
“Kalau kamu ingin membeli bahan untuk—”
“Tidak.” Elaina memotong. “Mungkin aku bisa lain kali membeli di sini.”
“Bagian buku ada di lantai dua.”
Elaina mengikuti Ali. Barang-barang yang di dagangkan di lantai bawah begitu banyak. Bahkan ada boneka beruang terpajang. Elaina pun terhenti, dia menatap lamat-lamat boneka itu.
Ali pun tersadar, dia memandang Elaina yang berhenti melihat boneka beruang.
Jadi dia suka boneka beruang. Ali membatin.
Saat Elaina tersadar jika Ali memandanginya, dia memalingkan wajah. Mungkin malu. Ali hanya terkekeh.
Mereka meneruskan perjalanan menuju lantai dua. Toko buku tengah kota memang selalu sepi pengunjung. Mungkin itu yang menyebabkan data mengatakan tingkat membaca orang Indonesia 0,01 %. Semua tergantikan dengan gadget. Kalau yang dibaca e-book tidak masalah, namun jika bukan itulah yang menjadi masalah.
Buku-buku dipajang. Ada yang dipajang di atas meja, ada juga yang dirak. Entah ada berapa rak. Memang banyak sekali buku baru yang terjual. Buku keluaran terbaru, Lumpu dan Si Putih, karya Tere Liye. Buku itu terpajang di meja khusus.
“Memangnya kamu ingin beli buku apa?” tanya Elaina.
“Novel dan buku Bahasa Jepang. Kamu tahu kan setelah ini bakal ada festival. Aku punya cara lain untuk melakukannya.”
“Memang apa yang ingin kamu lakukan?”
Ali pun terhenti di depan buku-buku yang baru saja rilis. Ada beberapa buku yang juga tercetak ulang.
“Menulis kanji.”
“Tunggu! Itu bukannya sudah berada di level yang berbeda?” tanya Elaina.