Sketch Within Words

Misaka Takashi
Chapter #9

Pada Akhirnya Elaina Mulai Melangkah Terlebih Dahulu

Menjelang malam mereka pun pulang. Elaina memilih untuk dijemput oleh orangtuanya. Ali memilih untuk menggunakan ojek online. Setibanya di rumah, Ali segera merebahkan diri di kasur. Hari yang melelahkan. Setumpukan buku yang baru saja dibeli masih berada di tas. Entah dia merasa malas sekali untuk mengambilnya.

Sebenarnya dirinya sendiri juga berada di posisi Elaina. Gagal menggapai impian. Novel ditolak, cerpen pun juga tidak menang. Dia hanya tengkurap. Kepalanya sedikit menoleh ke tumpukan naskah yang mulai meninggi. Dia tidak tahu apa yang membuatnya gagal. Intinya dia hanya terus berusaha dan berusaha. Apakah membuahkan hasil atau tidak? Dia tidak tahu.

Ternyata diriku hanya sok bijak saja. Ali menyeringai. Walau sebenarnya dia tidak bisa menyemangati dirinya. Namun, dia tidak menyesal. Meski dirinya sudah gagal dan orang yang dinasihatinya berhasil, mungkin itu sebuah kebahagiaan tersendiri. Tetapi, di sisi lain itu hanyalah bualan.

Pintu kamar diketuk.

“Masuk.”

Sosok gadis memasuki kamar Ali. Dia Bintang, gadis dengan rambut pendek sebahu. Tingginya mungkin sebahu Ali.

“Ada apa, Tang?” tanya Ali, nadanya seperti orang lemas.

“Tidak apa-apa, Kak. Aku hanya kemari untuk melihat Kakak.”

“Pasti ibu yang menyuruh?” tanya Ali.

Bintang mengangguk.

Kedua orangtua Ali bekerja di luar kota. Tidak mungkin kedua anaknya ikut juga. Jadinya Ali tinggal bersama adik perempuannya yang baru saja menginjakkan kelas satu SMP. Mereka berdua saling menyayangi satu sama lain. Kadang-kadang sering bertengkar. Kadang-kadang saling mengibarkan bendera putih.

Diam-diam saja Bintang sebenarnya khawatir dengan Ali yang selalu cemberut. Tidak pernah tersenyum ketika berada di rumah. Dia duduk di kasur, membelakangi Ali yang masih tengkurap.

“Kakak sudah makan?” tanya Bintang.

“Belum, tapi aku tidak lapar sama sekali.”

“Selalu saja, Kakak begitu, nanti kalau sakit yang repot semuanya.”

“Baiklah kalau begitu buatkan saja, mie.”

Bintang bangkit dari kasur. “Baiklah.”

Bintang keluar dari kamar Ali, hendak membuatkan mie. Ali pun mengubah posisi dari tengkurap menjadi duduk. Dia terdiam sejenak, tatapannya masih mengarah ke tumpukan naskah. Bagaimana ya? Itu selalu dilontarkan hampir setiap hari. Dia menyender pada dinding.

Ponsel di sampingnya berdering. Ali mengambil ponsel tersebut, pesan yang masuk berasal dari Elaina.


Elaina             : “Li....”


Tumben sekali Elaina menghubunginya. Padahal dia jarang berbicara melalui personal chat.


Ali                  : “Apa?”

Elaina             : “Soal tadi yang kamu bicarakan, aku ingin kamu membantuku.”

Lihat selengkapnya