Sketch Within Words

Misaka Takashi
Chapter #10

Sisi Lain

Suasana sedikit tenang di kelas, tepat menjelang siang. Pak Budi, mengajar dengan jelas, meski terkesan mudah, tetapi nyatanya kalau dihafalkan juga cukup sulit. Elaina memerhatikan dengan seksama materi yang dijelaskan, sedangkan teman yang berada di sampingnya, entahlah dia terus memainkan pena, tidak terlalu memerhatikan pelajaran. Sudah berulang kali Elaina menyikut Metha, namun tetap saja Metha hanya membalas sebentar, lalu kembali melamun. Tidak seperti biasanya yang selalu menggoda Elaina, malah dia seharian ini diam.

Tak lama bel istirahat kedua berbunyi, pelajaran telah berakhir. Seluruh siswa meninggalkan kelas dengan cepat. Ya bagaimana tidak, sekarang waktunya jam makan siang.

Ponsel Elaina berdering, pesan masuk dari Ali.


Ali                  : Hei, mau ke kantin? Ada yang ingin kubicarakan.


Tumben sekali Ali mengajaknya ke kantin. Apa ini tentang permintaannya semalam? Mungkin saja, setidaknya Elaina sudah membawa beberapa alat berupa laptop dan pentab.


Elaina             : Baiklah, tunggu sebentar.

Ali                  : Oh ya, jangan bawa alat-alatmu, aku ingin membicarakan tentang Rizal

Elaina            : Hmm, baiklah.


Elaina bangkit dari tempat duduknya, dia pun melangkah keluar. Namun, sebelum meninggalkan kelas, Metha tiba-tiba memanggilnya. Elaina menoleh.

“Ada apa?” tanya Elaina.

Metha membuka mulut, namun kata-katanya seolah tertahan. Apa dia ingin ikut ke kantin? Tidak, kelihatannya bukan begitu. Ini berbeda sekali. Kalau Metha ingin ikut, dia pasti akan segera ikut tanpa perlu meminta ijin.

“Tidak jadi, lupakan saja.”

“Kamu yakin?” Elaina bertanya sekali lagi, memastikan.

Metha mengangguk. “Tenang saja, aku baik-baik saja.”

Elaina pun melanjutkan langkahnya, meninggalkan kelas.

***

Suasana kantin begitu ramai. Suara celotehan piring menambah suasana kantin makin ramai. Tepat di depan kantin, Elaina bisa memandang Ali yang duduk sendirian di meja makan, sembari menikmati makan siangnya. Apa memang dia selalu sendirian? Dia rasa tidak, bagaimana cara mengetahuinya kalau saat-saat istirahat mereka tidak pernah saling bertemu. Paling-paling hanya sepulang sekolah saja mereka bertemu. Elaina mengampiri Ali yang tengah menikmati makan siangnya, dia langsung mengambil tempat duduk di samping Ali.

“Jadi, ada apa dengan Rizal?”

Ali mengangkat kedua bahu. “Entahlah, aku tidak begitu tahu, dia juga aneh hari ini di kelas.”

Lihat selengkapnya