Elaina mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Memasang kabel, pentab-nya.
“Jadi, sekarang kamu ingin menggambar apa?” tanya Ali, yang masih meneruskan catatannya.
“Entahlah, aku masih tidak tahu.”
Ali menghelakan napas dengan lesu. Kalau begitu pikirkan terlebih dahulu sebelum menggambar. Dia lantas menampar wajahnya sendiri.
“Ada apa?” Elaina memiringkan kepalanya.
“Tidak, tidak ada.”
Lengang ruangan itu. Dua siswa lain sudah pulang terlebih dahulu, menyisakan Ali dan Elaina. Ali duduk di samping Elaina hanya memandang layar putih kosong yang berupa kanvas. Sejak tadi Elaina tidak menggambar sama sekali.
Terdengar jarum jam berdetak. Motor yang keluar dari tempat parkir pun turut memecahkan keheningan. Elaina memejamkan mata, berusaha untuk menggambarkan pose karakter dan juga ciri-cirinya.
“Sudah ada perkembangan?” tanya Ali.
“Belum, semua blank.”
Ali pun melipat kedua tangan, sedikit menyender pada bangkunya. Dia bergumam, sepertinya cara ini tidaklah efektif dan malah membuat Elaina sedikit tersiksa. Mungkin kalau dideskripsikan bisa, pikir Ali. Dia lantas mengambil ransel, mengeluarkan dua lembar yang merupakan naskah.
“Kelihatannya ini bisa,” ujar Ali. “Elaina, coba kamu gambarkan karakter yang ada di cerita pendekku.”
Elaina meraih dua lembar itu, membacanya sejenak. Seketika di kepala Elaina muncul sebuah ide. Dia lantas mengankat pen dan tab-nya. Mulai menggambar apa yang ada di kepalanya. Sebuah lingkaran mulai tergurat. Garis panjang dari atas ke bawah mulai terbentuk. Empat garis dari kiri ke kanan berjajar-jajar ke bawah dengan jarak tertentu sudah mulai terbentuk. Dia mulai menarik garis dari lingkaran itu ke garis ketiga, lalu sedikit menekuk hingga ke bawah. Begitu juga dengan sisi satunya.
Kemudian, membuat lengkukan di sisi kiri dan kanan. Itu adalah telinga. Lalu, menggambar bola mata dengan lingkaran, kemudian menambah sedikit lengkukan pada atas garis bola mata, menambahkan garis bawah yang sejajar dengan bola mata. Dia melakukan hal serupa pada mata satunya.
Satu jam telah berlalu. Gambaran itu sempurna kepala seorang gadis dengan bola mata berwarna biru, rambut hitam pendek sebahu. Ali yang duduk di sampingnya bertepuk tangan. Itu berarti Elaina sudah bergerak setelah sekian lama diam.
“Itu gambaran yang bagus, El,” puji Ali.
Elaina menatap gambaran itu dengan cermat ada sesuatu yang salah dengan gambaran itu atau mungkin kurang. Hal itu tidak dapat dilihat oleh Ali.