Suasana kelas ramai seperti biasa. Hiruk pikuk terjadi di setiap sudut kelas. Suara perbincangan para siswa yang tiada hentinya. Namun, hal itu tidak dipedulikan oleh Elaina. Dia sejak tadi, menatap ponselnya yang mati. Sebenarnya dia tengah menunggu chat dari Ali. Namun, tidak kunjung masuk.
“Kamu sedang menunggu siapa?” tanya Metha yang juga menatap ponsel mati itu.
Elaina tidak membalasnya. Metha pun melakukan segala cara, hingga berakhir mencubit pipi Elaina. Namun, tak kunjung ada respon.
Metha pun menyerah, dia kembali menyandar pada kursinya sembari melipat tangan. Memikirkan bagaimana Elaina bisa sadar dari lamunannya. Ada satu hal yang akan membuat Elaina sadar. Mungkin cara ini akan berhasil. Mari dicoba.
Metha, mengeluarkan ponsel dari saku roknya, kemudian menghubungi Ali. Metha sudah tahu kalau Elaina menyukai Ali. Tetapi poker face-nya sangat mengganggu. Walau bisa ditebak dari tingkah, tetapi itu masih belum cukup untuk membuat Elaina mengakuinya.
Setelah, mengirim pesan. Ali pun mulai menghubungi Elaina. Benar saja, Elaina langsung sadar dari lamunannya. Ternyata berhasil cara ini.
Dengan cepat, Elaina langsung membala pesan dari Ali.
Ali : Hei jangan melamun saja!
Elaina : Eh, aku tidak melamun.
Ali : Yang benar? Tadi Metha bilang kamu melamun terus, memang ada apa?
Elaina melirik Metha dengan menyipitkan mata.
Sialan, Ali ternyata tidak bisa diajak kerja sama. Chat itu belum dibalas oleh Elaina. Dan Elaina masih menatap Metha, seolah tengah menandai Metha menjadi musuhnya tidak akan lama lagi.
“Maaf.” Metha menghelakan napas. “Dari tadi, kamu melamun terus, memang ada apa?”
Masih belum ada respon dari Elaina. Kali ini, Elaina benar-benar jengkel pada teman sebangkunya itu. Langkah yang salah sekaligus benar bagi Metha. Namun, tidak sebanding dengan efeknya. Baiklah, apa boleh buat?
“Maaf, tapi kamu benar menyukainya kan?” Metha kembali meminta maaf.
Tetap saja tidak ada respon. Ini sudah kedua kalinya, Elaina tidak merespon jawaban dari Metha.
“Baiklah, aku mengerti.”
Kemudian, Elaina menoleh ke arah lain.
“Jangan beritahu dia,” ucap Elaina dengan pelan.