Pertandingan itu tiba. Metha duduk di bangku tribun netral. Lapangan basket itu luas dalam sebuah bangunan yang bertuliskan JRBL. Bangunan itu dipenuhi oleh penonto dari semua kalangan umum dari yang dewasa sampai yang masih muda. Pertandingan antar SMP yang sering diadakan setiap setahun sekali.
Sorak para supporter saling bersahut-sahutan tiada henti, menyemangi pemain di bawah.
“Pertandingan di babak keempat begitu sengit,” komentator di tempat sebuah ruangan berapi-api melihat pertandingan di bawah sana yang begitu sengit. “Apakah SMP X bisa mengalahkan SMP Y? Mengingat tahun lalu, SMP X hampir memasuki babak semifinal, mereka kalah di perempat semifinal.”
Ivan berada di bawah sana memasuki lapangan. Tim Ivan adalah SMP X. Bersama dengan rekannya yang lain, mereka bersiap mengalahkan musuh yang ada di hadapan mereka. Wasit meniup peluit, melempar bola di tangah lapangan. Pertandingan di mulai.
Ivan berlari merebut bola dari musuh, menderible lalu mengoper pada rekannya. Dengan cepat dan tampa ampun, rekannya itu mengoper kembali pada Ivan. Ivan dengan cepat menderible, jarak dengan ring sudah amat dekat. Dia melompat, berhasil memasukan bola basket ke dalam ring.
Supporter SMP X bersorak riang. Dua poin untuk SMP X.
“Permainan yang bagus untuk Ivan dari SMP X, entah apa yang terjadi dengan SMP Y, mudah untuk dikalahkan kali ini. Mereka bisanya selalu lolos ke babak semifinal.” Kembali lagi komentator berapi-api.
Poin yang diterima oleh SMP X 30 sedangkan SMP Y 27. Jarak yang cukup berbahaya, sewaktu-waktu SMP Y bisa menyerang balik dengan mudah. Pilihannya ada dua, mengebut poin atau bertahan itu yang akan dilakukan oleh SMP X.
Suara riuh sorakan saling bersahutan tanpa henti. Sebenarnya hal ini malah membuat Metha berusaha menutup telinga. Metha menghelakan napas, dia tetap melanjutkan menonton pertandingan.
Pertandingan berakhir sangat memuaskan, Metha menunggu di tempat yang dijanjikan. Pintu keluar tribun. Metha sembari bermain ponsel, sosok itu belum kunjung datang. Kira-kira apa yang akan dia katakan nanti?
Metha menyandar pada dinding.
Dari kejauhan, Ivan berlarian mengenakan jaket, dia melambaikan tangan pada Metha yang berdiri menyandar menoleh.
“Akhirnya kelar juga.” Napas Ivan tersengal-sengal.
“Selamat ya.” Metha menyunggingkan bibir.
Mereka pun melangkah keluar dari tempat itu.
“Jadi, apa yang sebenarnya ingin kamu katakan, Van?” tanya Metha.
“Hmm, soal itu, entahlah. Sebenarnya aku ingin mengatakan ini....”
Metha masih menatap Ivan yang gagap. Tidak seperti biasanya dia seperti ini. Selalu lancar. Namun, kali ini dia benar-benar gagap. Ragu untuk mengatakannya. Padahal dalam hatinya sejak tadi sudah meyakinkan. Apakah bisa?
“Met, aku menyukaimu, jadi kamu mau jadi pacarku?” Ivan mengalihkan pandangannya.
Wajah Metha merah merona saat mendengar hal itu. Dia pun juga tertunduk. Bagaimana cara membalasnya. Ini terlalu mendadak baginya. Namun, kesempatan ini hanya datang satu kali. Keputusan yang diambil dalam waktu singkat itu pun dimulai.