Ujian Tengah Semester berlangsung selama dua minggu. Elaina, Ali, Metha, dan Rizal sering kali mengadakan belajar bersama sejak minggu pertama ujian. Meski mereka berada di kelas yang berbeda, namun setidaknya mereka masih bisa saling bertanya dan mengajukan pendapat.
Kadang-kadang Ali tidak paham dengan soal matematika, bertanya pada Metha dan Elaina. Begitu juga sebaliknya ketika mereka tidak paham sejarah, Metha tinggal bertanya pada Rizal.
Pagi yang cerah di hari senin, sekolah seperti biasanya dipenuhi oleh siswa. Ini hari pertama UTS. Keempat sahabat ini berkumpul di depan kelas 1-8.
“Aku tidak yakin, aku tidak yakin.”
Elaina menoleh pada Ali yang duduk di samping sembari melihat rumus-rumus matematika.
“Li, kamu bisa.”
“Terima kasih, meski begitu aku tetap khawatir dengan nilai matematika. Dan juga kenapa harus di hari pertama?” keluh Ali, dia pun menutup buku dan berdiri.
“Jadi, sudah saatnya?” tanya Metha yang juga memasukan buku pada tas ransel.
“Kuharap di hari pertama soalnya tidak terlalu rumit.” Rizal ikut berdiri.
Ali menghelakan napas.
“Baiklah, setidaknya lakukan yang terbaik. Setelah ini selesai, kita akan merancang kembali Festival Budaya!”
Mereka pun ikut bersorak, membuat beberapa siswa yang lewat di jalan itu memandang mereka. Masa bodoh dengan hal itu. Ali, Elaina, Metha, dan Rizal pergi ke ruangan ujian yang terpisah.
***
Dua minggu berlalu, Ali merenggangkan tubuh di kantin. Ujian telah berakhir begitu cepat. Sekarang tinggal menunggu hasilnya. Bodoh amat dengan hasilnya, setidaknya mereka telah menyelesaikan ujian.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk festival?” tanya Metha yang duduk di samping.
“Entahlah, tapi kelihatannya aku punya ide. Kita tetap menjual ilustrasi anime. Elaina yang akan melakukannya. Bagaimana menurutmu, El?” mata Ali menatap Elaina.
Seharusnya ini bisa jadi kesempatan yang bagus untuk Elaina. Tanpa berpendapat, Elaina pun mengangguk mantap. “Akan kuusahakan.”