Sketch Within Words

Misaka Takashi
Chapter #16

SMA X

Suasana SMA X Surabaya begitu meriah dengan sebuah festival. Festival mereka diselenggarakan tiga hari. Ali dan Elaina baru saja turun dari angkutan umum, memandang keramaian pengunjung. Bagaimana caranya, Ali jelas-jelas minta ijin ke BK sebelum berangkat.

Hanya beberapa SMA yang mendapatkan undangan untuk kemari. Ali yang menerima undangan, mewakili dari sekolah. Apa timbal baliknya? Masa bodoh dengan hal itu. Cuaca di langit tampak terik dengan sinar matahari, sedikit berawan.

“Harusnya aku tidak kemari,” gerutu Ali.

“Eh, kenapa?” Elaina bertanya pelan.

“Ini terlalu ramai, dan juga panas. Namun, apa boleh buat, kita sudah terlanjur kemari, bukan?’

Elaina hanya terkekeh.

Bangunan SMA X Surabaya menjulang tinggi, berbeda dengan sekolah Elaina dan Ali. Benar-benar sekolah swasta yang sangat megah.

“Andai saja sekolah kita seperti ini.”

Elaina hanya mengangguk, mendengar harapan Ali. Tepat di depan bangunan, terdapat lapangan tidak terlalu luas dengan banyak sekali kios dan satu panggung. Kios-kios itu menjual berbagai macam cemilan, bahkan souvenir. Kios itu tampak sederhana, hanya ditutupi oleh tenda. Seperti pasar malam. Konon pada hari ketiga festival ini akan diadakan hingga larut malam.

“Jadi, kamu ingin apa di sini?” Elaina bertanya, sembari melangkah bersama Ali, mengeliling seisi lapangan.

“Entahlah, mungkin mencari sesuatu yang bisa dibuat laporan. Aku yang akan membuat laporan dan mengirimkannya pada OSIS saat hari pertemuan tiba.”

Hanya mengangguk saja, Elaina tiba-tiba menabrak seorang cowok yang masih muda, sepantaran dengan Elaina. Cowok itu kelihatannya tengah tergesa-gesa. Mereka berdua terjatuh.

“Maaf.” Elaina segera berdiri, menolong laki-laki itu.

“Tidak apa-apa, mungkin aku sedikit tidak fokus, cuaca di sini begitu panas.”

Cowok itu segera berdiri. “Maafkan aku dan—”

Cowok itu kemudian menatap Ali yang ada di belakang Elaina.

“Ali?” tanya cowok itu tidak percaya.

“Sudah lama sekali, Nevan.” Ali melambaikan tangan.

Cowok itu, Nevan, mereka sudah berteman sejak SMP kelas satu. Sebenarnya masih hanya beberapa bulan saja sebelum UTS. Kemungkinan dua bulan.

“Jadi, dia temanmu?” Elaina bertanya pada Ali.

“Iya, benar sekali. Nevan dia Elaina, Elaina dia Nevan.”

Elaina hanya mengangguk saja.

“Kalian pacaran?”

Elaina dan Ali menggeleng bersamaan. Sudah bosan mendengar hal itu di sekolah dari Metha, sekarang di tempat ini pun juga sama saja. Meski begitu, Elaina sudah menganggap hal ini sangat biasa.

“Baiklah, mari kutunjukan kiosku.” Nevan melangkah, memandu Ali dan Elaina. “Sebenarnya, kiosku itu dari klub Bahasa Jepang. Kami hanya menjual takoyaki dan onigiri. Hanya makanan, meski begitu persaingan di sini begitu ketat.”

“Baguslah kalau begitu.”

Lihat selengkapnya