Sketch Within Words

Misaka Takashi
Chapter #17

Hasil Persiapan

“Kamu yakin bisa mengatasinya?” Metha bertanya pada Ali yang sudah membawa laporan acara kemarin.

“Tenang saja, aku tidak sendirian. Aku bersama Kak Farzan, dia yang akan membantuku berbicara.” Ali menyeruput es coklat yang dia beli barusan.

Suasana kantin seperti sebelumnya, ramai tiada hentinya. Banyak siswa yang keluar dan masuk kantin, bahkan ada yang menetap di sana hingga bel berbunyi.

Pertemuan dengan Pengurus OSIS baru diadakan lima belas menit lagi. Bukan waktu yang menyenangkan. Jatah istirahat terpotong hanya lima belas menit.

“Hei, Ali, kamu kemarin tidak macem-macem dengan Elaina, kan?” Metha menggoda.

“Tidak, memang kenapa?”

“Kamu tidak menyadarinya?” Metha bertanya balik.

“Menyadari apa?”

Metha menyerah, dasar tidak peka. Dia menghelakan napas dengan lesu. Elaina tidak bersama mereka, dia tengah memiliki urusan dengan guru terkait tugas kemarin. Mendengar itu awalnya Ali sedikit merasa bersalah, namun ya sudahlah. Lagi pula Elaina tidak marah sama sekali.

“Ngomong-ngomong, aku dengar kamu sedang menulis buku dengan Elaina ya?” tanya Metha.

Ali mengangguk. “Itu benar, untuk lomba. Aku tidak tahu akan menang, lagi pula ini sudah kedua kalinya aku ikut.”

“Dua kali?” Metha memiringkan kepala.

Ali mengangguk. “Kelihatannya aku belum menceritakan pada siapa pun.”

Metha membetulkan posisi duduk di bangku. Bersiap untuk mendengar cerita dari Ali.

“Kamu bisa cerita jika mau, dan aku tidak akan memberitahukannya,” bisik Metha.

“Lagi pula aku tidak berniat merahasiakannya.” Ali menyeringai.

Ali menghelakan napas. “Sebenarnya itu sudah cukup lama bagiku, lebih tepatnya tahun lalu, saat masih SMP aku gagal dalam perlombaan membuat novel tentu aku ikut lagi di kompetisi cerpen, tapi tetap saja tidak membuahkan hasil. Namun, entahlah aku tidak mau menyerah begitu saja. Mungkin aku tampak baik-baik saja di depan, namun tidak di baliknya. Aku pernah menangis setiap malam....” Ali pun terdiam sejenak, berusaha menahan air mata. Ali menceritakan kejadian itu saja sudah hampir membuatnya menangis.

“Kalau ingin menangis silahkan.”

Ali menyeringai, mana mungkin dia akan menangis di kantin yang ramai ini. Apa lagi menangis karena hal sepele. Dia sedikit menundukkan kepala.

“Bagiku, percuma saja menangis, itu tidak akan mengubah keadaan. Aku melakukan semua ini karena keinginanku sendiri. Jadi, jika kalah atau gagal tanggung risiko.”

Metha mengangguk paham. Dia mengerti maksud Ali saat ini.

Lihat selengkapnya