Sketch Within Words

Misaka Takashi
Chapter #18

Pembatalan

“Aku baik-baik saja, mau ke toko buku?” Ali bangkit dari bangku depan kelas. “Kalau mau aku akan membereskan barang-barangku.”

Sebelum Ali masuk, Elaina menarik lengan Ali, menahan agar dia tidak menghindar. Pasti ada yang disembunyikan oleh Ali.

Tak lama, Ali pun terkekeh. “Ternyata aku tidak pandai berbohong.”

“Sudah kuduga kalau kamu punya masalah, memang masalah apa?”

“Bisakah kita membahasnya di luar sekolah atau kafe, kelihatannya tidak enak jika kita membahas di sini.”

Elaina mengangguk, setuju. Setidaknya kalau di luar sekolah masih lega untuk membahas sesuatu.

Seusai membereskan barang, Ali segera bergegas keluar dari kelas. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, berkumpul membahas beberapa hal, namun kali ini Ali ingin membicarakan pada Elaina empat mata. Apakah ini ada kaitannya dengan pertemuan tadi, atau hal lainnya?

Mereka langsung bergegas pergi dari sekolah dengan angkutan umum. Ali kali ini cukup gelisah sekaligus bingung. Tidak henti-hentinya dia menatap ponsel.

Angkutan umum berhenti di depan sebuah kafe yang murah. Itu adalah kafe yang dulu Ali sering kunjungi. Dan ini baru pertama kalinya Elaina pergi ke kafe itu.

Kafe itu berada di dekat pusat kota, terkenal dengan murah meriah dan juga menu bervariasi. Yang datang juga tidak hanya dari pengunjung dewasa, remaja kuliah, dan remaja SMA juga datang kemari sepulang sekolah. Siapa juga tidak penat saat selesai belajar dengan jam yang begitu padat.

Ali mengambil tempat duduk pinggir jendela. Kafe itu memiliki toko kamera polaroid, tidak salah juga jika tema yang dibawa adalah foto polaroid. Hal itu terlihat di dinding banyak sekali aksesoris kamera dan juga beberapa foto polaroid pemandangan yang indah. Pantai, gunung, hutan, bahkan air terjun. Terkesan sederhana dan estetik. Bahkan di bagian kasir juga terdapat aksesoris untuk berfoto.

Tepat di meja yang Ali duduki terdapat sebuah bunga plastik dengan vas bunga sungguhan.

“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Elaina.

“Bisakah kita memesan dulu? Aku ingin kapucino.”

“Baiklah, aku juga sama.”

“Eh, kamu suka kapucino?”

Elaina mengangguk, bahkan dulu di saat dia tengah stres, diam-diam Elaina mengambil kapucino milik papa yang ada di dapur. Sebenarnya bukan untuk menahan kantuk, lebih tepatnya membuat imajinasi melayang lebih luas.

Ali segera bangkit dari bangku, pergi ke kasir. Elaina masih kagum memandang interior kafe ini. Penuh dengan foto-foto pemandangan alam yang cukup estetik.

Lihat selengkapnya