Sketch Within Words

Misaka Takashi
Chapter #19

Akhir Pekan

Tidak ada perkembangan dari kabar Festival yang diselenggarakan. Namun, banyak dari seluruh pengurus ekstrakulikuler berkumpul diam-diam untuk merencanakan aksi negosiasi dengan para OSIS. Farzan lah yang menghadari pertemuan itu, dia tidak mengajak Ali karena ini bisa saja masalah yang memerlukan sedikit kenekatan.

Meski menjengkelkan, bagi Ali, namun di sisi lain dia sedikit lega dengan keadaan yang tidak terlalu memberatkan kepala. Mungkin selama ini yang dibenci olehnya adalah membuat sebuah laporan sebagai refrensi, namun berakhir tidak jadi. Ali menghelakan napas di kelas, sembari mengetik novel.

Saat ini memasuki pelajaran matematika, namun guru hari ini tidak bisa hadir karena ada keperluan di luar. Sebagian menganggap ini adalah kebahagiaan di kelas Ali bahkan termasuk Ali sendiri.

Waktu jam kosong banyak siswa yang berkeliaran keluar kelas diam-diam, paling juga ke kantin. Termasuk Rizal. Awalnya dia mengajak Ali untuk keluar, namun Ali tidak mau untuk menyelinap. Dia lebih memilih menghabiskan waktu bersama laptopnya, membuat sebuah novel. Ya, benar sekali, novel itu yang akan diikut lombakan tahun depan. Dia sudah mendaftar dan memiliki konsep, semua konsep boleh jadi diterima, namun di sini pertarungan eksekusi yang akan menjadi penentu. Ali juga belum memasang judul pastinya.

Bukan cerita fantasi yang dibuat oleh Ali, melainkan sebuah cerita masa SMA, dia berusaha mengumpulkan segala pengalamannya dalam bentuk tulisan. Dan dia sudah melakukannya sejak awal masuk. Semoga ini bisa diterima, Ali sangat berharap sekali.

Selang tiga hari berlalu, akhir pekan tiba. Ali sudah membuat janji dengan Elaina untuk mengunjungi rumahnya hari ini. Namun, yang menjadi masalah bukan persiapan, ternyata kalau dipikir kembali ini sedikit canggung. Bagaimana dia menyapa kedua orang tua Elaina.

Semalaman, Elaian memberi nomor alamat rumah. Kini Ali sudah berdiri di depan rumah Elaina. Tampak besar, terdapat mobil sedan berwarna putih. Kalau dilihat memang tidak terlalu megah, seperti standar rumah biasa.

Tidak ada waktunya untuk ragu. Ali menggenggam erat ransel. Dia melangkah mendekati pagar, menekan tombol bel rumah.

Selesai menekan Ali menelan ludahnya, ini keputusan buruk, ini keputusan buruk. Ditambah dahinya sudah mulai bercucuran keringat. Entah hawa pada pagi ini lebih panas dari sebelumnya?

Hal yang ditakutkan oleh Ali saat berkunjung ke rumah teman, khususnya teman cewek adalah bertemu dengan orang tua cewek itu. Entah kenapa saat ini Ali ingin pulang saja, apa yang sebenarnya dia pikirkan?

Pintu dalam mulai terbuka, sosok pria dengan wajah sedikit keriput, rambut berwarna putih, serta mengenakan kacamata, keluar dari rumah. Pria itu berumur kurang lebih 48 tahun. Tipe pemikir, tatapannya sedikit galak. Dialah orang yang paling ditakuti oleh Ali. Sosok Ayah.

“Kamu temannya Elaina, bukan?” tanyanya.

“I-iya, benar Om.” Ali menggaruk kepala yang terasa tidak gatal.

“Masuklah, pagar tidak dikunci.”

Ali pun menggeser pagar, suara keras dari pagar itu terdengar memekakan dalam lengang. Dia masuk, lalu bersalaman dengan ayah Elaina.

“Tidak kusangka akhirnya kamu datang, sebelumnya aku menyuruh Elaina untuk mengundangmu, kurasa dia sudah memberitahumu.”

“Ya, kurang lebih begitu.” Ali terkekeh. Sebenarnya bukan Elaina yang mengundangnya, melainkan Ali sendiri yang ingin datang kemari.

Namun, tidak masalah. Hal itu bukanlah sesuatu yang benar-benar penting untuk saat ini.

Lihat selengkapnya