Pukul satu siang, cuaca di luar semakin panas. Meski Elaina sudah menyalakan kipas angin, tetapi tetap saja masih tidak tertolong. Suhu panas itu membuat Elaina semakin tidak bisa berpikir. Ali juga demikian, dia malah semakin jengkel dengan tulisannya sendiri. Ditambah juga perut Ali berbunyi keroncongan.
“Ali, kamu lapar?” Elaina melirik Ali.
“Sedikit, tapi tenang saja aku sudah membawa roti yang baru saja aku beli di minimarket. Setidaknya itulah yang bisa kulakukan.”
“Ada yang bilang lapar?” Ibu Elaina muncul dari balik lemari tiba-tiba. “Akan mama buatkan makan siang yang lezat.”
“Mama, jangan beri dia makan siang.”
“Itu kejam sekali, El.”
“Iya Te, lebih baik tidak usah.”
“Tidak masalah akan aku buatkan.” Ibu Elaina tetap bersikeras membuatkan makan siang.
Baiklah, kalau begini tidak akan ada yang bisa menghalanginya.
Ali melirik Elaina, menyeringai setelah tahu sebutan Elaina saat memanggil ibunya.
“Kamu memanggil Mama?” tanya Ali menyeringai, menurutnya itu sedikit lucu saja.
“Diam saja!” Elaina memasang muka jengkel. “Kalau kamu risih, kamu bisa pulang sekarang.”
“Maaf.” Ali menyeringai.
Elaina memutar bola mata, sebal dengan kelakuan Ali.
Makan siang bersama keluarga Elaina bisa dibilang sedikit memalukan sekaligus tidak sopan rasanya. Meja makan dan empat kursi saling berhadapan. Ali duduk di samping Elaina. Papa dan mama Elaina duduk di sebrang. Itu makan siang di hari libur yang buruk. Terutama pada mama Elaina yang sering kali banyak bertanya pada Ali. Bahkan bila perlu cerita Elaina sewaktu kecil yang masih manis dengan wajah pipi tembem pun juga turut diceritakan.
“Mama! Bisa tidak, tidak usah cerita hal-hal itu, itu memalukan.” Elaina berteriak berusaha menahan cerita mamanya sampai pada Ali.